Seoul, (berita2.com) : Pesawat terbang yang memuat senjata dari Korea Utara yang ditangkap di Bangkok bulan ini bertujuan ke Iran, menurut laporan satu surat kabar Senin (21/12), yang menyatakan dokumen-dokumen tersebut dimiliki oleh para pakar penyelundup senjata.
Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, Dennis Blair, mengatakan pekan lalu bahwa kargo seberat 35 ton itu, yang pengirimannya melanggar sanksi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang dikenakan terhadap Pyongyang, dan bertujuan ke satu tempat yang tak ditentukan di Timur Tengah.
Surat kabar The Wall Street Journal, yang mengutip rencana penerbangan yang dimiliki para penyelidik, mengatakan bahwa pesawat itu akan melakukan pengisian bahan bakar di Sri Lanka, Uni Emirat Arab dan Ukraina sebelum mendarat di Teheran.
Surat kabar itu mengatakan informasi barunya itu berasal dari satu rancangan laporan gabungan para analis di TransArms and International Peace Information Service (IPIS), yang berkantor pusat di Chicago, di Antwerpen.
Para penjabat Thailand mengatakan mereka mencekal pesawat Ilyushin-76 tersebut atas informasi Amerika Serikat setelah pesawat itu mendarat untuk mengisi bahan bakar di bandara Bangkok 11 Desember, dengan barang angkutan termasuk peluncur rudal dan granat berpeluncur roket.
Pilot Belarusia dan empat awak berkebangsaan Kazakhstan kemudian ditahan.
Para penjabat Thailand mengatakan pesawat itu terbang ke Pyongyang melalui Bangkok dua pekan lalu untuk mengambil kargo tersebut, kemudian kembali ke Bangkok untuk mengisi bahan bakar pada 11 Desember.
Para awak pesawat mengatakan mereka yakin bahwa mereka membawa peralatan pengeboran minyak.
Wall Street Journal mengutip seorang penyelidik yang mengatakan para awak itu mungkin direkrut secara gelap, dan diberi dokumen penerbangan yang dimiliki oleh TransArms dan IPIS, yang menyatakan kargo tersebut adalah "suku cadang peralatan industri minyak".
Para pelaku pengiriman tampaknya mempunyai kepentingan besar untuk menyembunyikan identitas mereka, dengan menggunakan berbagai perusahaan, kata Wall Street Journal.
Pesawat itu tercatat sebagai milik satu perusahaan Georgia yang disebut Air West, yang pada 5 November disewa untuk perusahaan lain, SP Trading --yang tercatat milik Selandia Baru, kata surat kabar tersebut.
Dalam kontrak lain tertanggal 4 Desember, menurut dia, SP Trading menyewakan pesawat itu kepada satu perusahaan yang berkantor pusat di Hong Kong.
Wall Street Journal mengatakan perusahaan Hong Kong tersebut adalah milik satu perusahaan kedua, yang diimbal dari perusahaan ketiga yang berpusat di Kepulauan Virgin Inggris, menurut dokumen catatan perusahaan.
"Perusahaan ini tampil sebagai pelaksana pengiriman barang itu," katanya.
Pesawat tersebut semula dimiliki oleh Overseas Cargo FZE, satu perusahaan yang berpangkalan di Sharjah di Uni Emirat Arab, kata surat kabar itu, yang mengutip rancangan laporan para penyelidik itu.
Mereka mengatakan perusahaan itu tercatat dimiliki perusahaan tunggal, yang mencantumkan alamatnya di Kazakhstan, namun menolak berkomentar ketika ditanyai mengenai penangkapan pesawat tersebut.
PBB melarang semua ekspor senjata Korea Utara dalam resolusi keras yang dikeluarkan Juni lalu, setelah Pyongyang melakukan uji tembak rudal dan senjata nuklirnya.
Kasus Bangkok itu diduga akan menjadi kasus pengiriman senjata dengan pesawat pertama dari Pyongyang, yang kemudian ditangkap.(*un)





















