Seoul, (berita2.com): Amerika Serikat dan Korea Utara telah sepakat untuk mengadakan dua putaran perundingan bilateral sebelum Korea Utara kembali kepada perundingan perlucutan senjata nuklir multilateral, kata laporan berita-berita AS.
Kesepakatan itu dicapai pada akhir pertemuan bulan lalu di New York dan San Diegp antara para pejabat dari kedua pihak, kata majalah Foreign Policy dalam laman jejaringnya, kata laporan itu Rabu.
Negara komunis itu, melakukan tekanan lebih lanjut kepada AS agar memulai perundingan langsung. Pihaknya Selasa mengumumkan telah menyelesaikan pemrosesan kembali bahan bakar miliknya untuk dijadikan plutonium, dalam rangka prgram persenjataan atom.
Departemen Luar Negeri AS menanggapi bahwa produksi plutonium yang dilakukan Korea Utara melanggar komitmen perlucutan senjata dan melanggar resolusi-resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Foreign Policy, mengutip seorang pejabat pemerintah mengatakan, perkembangan penting telah dilakukan dalam perundingan-perundingan antara Sung Kim, utusan khusus Deplu AS pada perundingan enam negara, dan pejabat tamu dari Korea Utara, Ri Gun.
Korea Utara telah mengatakan bahwa pihaknya telah siap untuk kembali ke perundingan perlucutan nuklir enam negara, yang mereka tinggalkan April, namun hanya jika lebih dulu dilakukan pembicaraan bilateral dengan Washington untuk memperbaiki hubungan.
Kepala perunding nuklir Korea Selatan, Wi Sung-Lac mengatakan kepada kantor berita Yonhap secara terpisah, bahwa AS diperkirakan akan memutuskan segera mengenai dialog bilteral itu dan kapan diselenggarakannya.
Foreign Policy mengatakan, Ri setuju bahwa Bosworth akan bertemu dengan Kang Sok-ju, wakil menteri luar negeri pertama, ketimbang dengan ketua juru runding nuklir Kim Kye-Gwan.
"Kunjungan Bosworth akan dianggap gagal jika tidak menunjukkan beberapa kemajuan dan hal itu juga secara luas diyakini, bahwa hanya para pejabat tinggi dalam rezim Kim Jong-Il yang berwenang untuk melakukan perundingan," kata majalah tersebut.
Namun demikian, Ri menyatakan keberatan atas permintaan Sung Kim bahwa Korea Utara harus mematahu kesepakatan nuklir enam negara September 2005, kata majalah itu.
Kesepakatan itu menyatakan bahwa perlucutan nuklir Korea Utara dilakukan dengan imbalan bantuan ekonomi, pengakuan diplomatik dan pembentukan rezim perdamaian permanen untuk menggantikan gencatan senjata yang riskan, yang mengakhiri perang Korea 1950-53.
Korea Utara ingin melanjutkan perundingan-perundingan tersebut berdasatkan prakarsa perlucutan nuklir semenanjung Korea, kata majalah itu.
Pyongyang menyeru untuk mundur dari ancaman nuklir AS dan mengubah kebijakan permusuhannya sebagai prasyarat untuk menyerahkan persenjataan nuklirnya.
Korea Utara keluar dari perundingan enam negara April lalu, setelah PBB mengecam peluncuran roket jarak jauhnya.
Setelah itu, pihaknya berikrar untuk memulai program nuklirnya yang telah dihentikan berdasarkan kesepakatan enam negara.
Pyongyang juga melakukan uji coba senjata atom yang kedua sejak 2006, pada Mei lalu.(*ek)





















