Bogota, (berita2.com) : Lima orang tewas dan empat lainnya cedera setelah pemberontak FARC menyerang dan berusaha menculik seorang kandidat gubernur di satu provinsi selatan, kata pihak berwenang ,Senin (15/2).
Serangan itu menekankan betapa rawannya para politikus di daerah pedesaan Kolombia kendatipun kemajuan dicapai dalam bidang keamanan oleh Presiden Alvaro Uribe dukungan AS untuk mengalahkan pemberontakan kiri yang paling lama bertahan di Amerika Latin.
Polisi mengatakan pemberontak menyerang satu konvoi yang membawa Jose Alberto Perez, calon Partai Konservatif untuk gubernur provinsi Guaviare dalam satu pemilu khusus 28 Februari yang diselenggarakan setelah gubernur terdahulu dipaksa mundur.
Perez cedera ketika pemberontak melepaskan tembakan dalam satu serangan di pinggir jalan yang menewaskan empat polisi pengawal dan seorang lainnya, kata polisi.
FARC atau Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia , berada dalam keadaan yang sangat lemah dalam puluhan tahun setelah operasi Uribe memaksa mereka mundur ke hutan-hutan dan gunung-gunung. Tetapi kelompok gerilyawan itu tetap merupakan ancaman di daerah-daerah pedesaan. Mereka mendapat dana dari keterlibatan mereka dalam perdagangan kokain dan pemerasan.
Serangan Ahad itu terjadi saat Kolombia bersiap-siap bagi pemilihan-pemilihan legislatif Maret dan presiden Mei dengan Uribe masih belum pasti apakah ia akan ikut mencalonkan diri bagi masa jabatan ketiga secara berturut di negara pengekspor kopi nomor tiga dunia itu.
Desember tahun lalu, FARC menculik dan membunuh seorang gubernur negara bagian Caqueta dalam satu serangan di kota yang jarang terjadi. Luis Cuellar diseret dari rumahnya, dimasukkan ke dalam sebuah jip yang menunggu dan kemudian ditemukan dengan lehernya terpotong.
FARC terpukul akibat kehilangan sejumlah komandan penting dan banyak anggotanya yang membelot sementara para petempurnya mendapat tekanan yang meningkat dari militer.
Pasukan Kolombia mendapat keuntungan dari mobilitas yang lebih baik dengan helikopter-helikopter , pelatihan yang meningkat dan intelijen, memaksa FARC memulai serangan dan menggunakan ranjau untuk menyerang pasukan.(*un)