Washington, (berita2.com) : Perang di Irak berakhir dan semua pasukan Amerika Serikat akan pulang, kata Presiden Barack Obama, Rabu (28/1) waktu setempat dalam pidato kenegaraannya , yang berikrar AS akan tetap mendukung rakyat Irak.
"Sementara kita memerangi Al Qaida, kita bertanggungjawab untuk menyerahkan Irak kepada rakyatnya," kata Obama dalam pidatonya di Kongres.
"Tapi jangan salah: perang ini berakhir , dan pasukan kita pulang," tambahnya , yang mendapat tepuk tangan para anggota Kongres.
Ia mengulangi janjinya bahwa semua pasukan tempur AS akan meninggalkan Irak akhir Agustus, lebih dari tujuh tahun setelah invasi pimpinan AS yang bertujuan menggulingkan Presiden Saddam Hussein almarhum.
"Kita akan mendukung pemerintah Irak karena mereka menyelenggarakan pemilu , dan tetap bermitra dengan rakyat Irak untuk meningkatkan perdamaian dan kesejahteraan regional," tambah Obama.
Presiden AS mengalihkan fokus militer AS dari Irak ke perang terhadap Taliban di Afghanistan dan menumpas gerilyawan Al Qaida yang diduga bersembunyi di sepanjang perbatasannya dengan Pakistan.
MIliter AS sekarang memiliki 107.000 tentara di Irak dan sekitar 70.000 personil di Afghanistan dengan 30.000 tentara lainnya akan tiba di negara itu dalam bulan-bulan mendatang.
Pasukan tempur AS meninggalkan kota-kota dan desa-desa Irak Juni tahun lalu dan menurut rencana akan meninggalkan negara itu seluruhnya Agustus mendatang.
Semua tentara AS harus mundur dari Irak pada akhir tahun 2011 berdasarkan perjanjian keamanan yang bersejarah yang ditandatangani antara Baghdad dan Washington.
"Malam ini, semua prajurit pria dan wanita di Irak , Afghanistan dan di seluruh dunia harus tahu bahwa mereka mendapat penghargaan kita , terima kasih kita dan dukungan penuh kita," kata Obama pada para anggota parlemen AS itu
Lebih dari 4.370 tentara AS tewas dalam tujuh tahun sejak mantan Presiden AS George W.Bush memerintahkan invasi ke Irak, setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.
Invasi berhasil menggulingkan dan kemudian mengeksekusi Saddam, tetapi menimbulkan sejumlah aksi kekerasan sektarian dan aksi perlawanan berdarah terhadap pasukan AS.
Aksi kekerasan masih tetap melanda Irak, seorang penyerang bunuh diri meledakkan mobilnya , Selasa ketika berada di markas besar forensik Irak di Baghdadm, menewaskan 18 orang dan mencederai 80 lainnya.
Serangan itu merupakan pelanggaran keamanan lainnya sehari setelah tiga bom minibus yang ditujukan ke hotel-hotel menewaskan puluhan orang di ibu kota Irak itu, di tengah-tengah aksi kekerasan kurang enam minggu menjelang pemilu.(*un)