
"Hukum imigrasi biasa dan reguler akan diberlakukan, yang berarti kami takkan menerima mereka menjadi orang Haiti AS yang berusaha mencapai pantai kami," kata Hillary kepada wartawan.
"Mereka akan dilarang, mereka akan dipulangkan," kata pemimpin diplomat AS itu ketika ditanya apa yang dapat dilakukan guna mencegah orang Haiti yang meninggalkan negeri mereka.
Pemerintah AS, Rabu, menyatakan Washington tak melihat adanya arus besar orang perahu Haiti sejak gempa yang memporakporandakan mengguncang Port-au-Prince dan daerah sekitarnya pada 12 Januari.
Hillary mengingatkan kembali bahwa Washington, karena alasan kemanusiaan, telah memberi suaka sementara bagi orang Haiti yang berada di negeri tersebut tanpa dokumen hukum yang layak saat gempa mengguncang.
Hillary juga menekankan tekad AS untuk membantu orang Haiti yang meninggalkan ibukota negara mereka ke daerah yang relatif lebih aman di daerah pinggiran.
"Kami juga mengetahui bahwa sangat banyak orang meninggalkan Port-au-Prince ke daerah pinggiran. Kami sedang berusaha mengirim lebih banyak bantuan ke sana, lebih banyak tempat berteduh, makanan, obat, dan tentu saja air," kata Hillary.
"Orang merasa lebih aman di daerah pinggiran dan kami ingin menunjang mereka," katanya.
Sementara itu di Haiti, satu pekan sudah Pierre-Louis Ronny, seorang pekerja telekomunikasi, diselamatkan sesudah tertimbun di bawah reruntuhan gedung tempatnya bekerja ketika gempa hebat mengguncang Port-au-Prince Selasa (12/1) lalu dan merubuhkan gedung itu.
Harapan cemas dalam penantian bagi Ronny tidak berkepanjangan karena ia akhirnya dapat diselamatkan, tepat satu pekan setelah reruntuhan akibat gempa 7 Skala Richter menguburnya --dan bukan tak mungkin dapat membunuhnya.(*ek)





















