Washington, (berita2.com): Presiden AS Barack Obama akan mengumumkan strategi barunya untuk Afghanistan dalam pidato kepada bangsanya Selasa malam dari akademi militer West Point yang bergengsi, kata Gedung Putih.
Dalam peristiwa yang akan menjadi momen pasti dari kepresidenan Obama yang masih muda, ia secara luas diperkirakan akan mengirim sebanyak 34.000 tentara lagi ke medan tempur untuk menumpas gerilya Taliban yang makin dahsyat.
Pengumuman itu akan berlangsung pada Selasa pukul 20 waktu setempat (Rabu pukul 8 WIB) di sekolah perwira elit AS West Point di negara bagian New York, jelas jurubicara Gedung Putih Robert Gibb pada wartawan.
Satu hari setelah Obama berjanji untuk "menyelesaikan pekerjaan" dalam konflik delapan tahun itu, garis besar mengenai rencana presiden tersebut mulai muncul, dengan Gibb menjanjikan rencana itu akan mencakup strategi keluar.
AS tidak akan tetap di Afghanistan selama "delapan atau sembilan tahun lagi", katanya, dan menambahkan bahwa pelatihan pasukan keamanan Afghanistan yang meningkat adalah "penting sekali dalam strategi itu".
"Dalam seluruh proses itu, presiden telah berulang kali mendesak dan mendorong, tidak hanya bagaimana kita akan mamasukkan sejumlah tertentu tentara, tapi bagaimana strateginya, apa yang harus dilaksanakan pada akhirnya untuk mengeluarkan mereka."
Keputusan Obama itu akan terjadi tiga bulan setelah komandan perangnya mengirim penilaian suram pada presiden yang memperingatkan bahwa misi AS mungkin akan gagal tanpa masuknya puluhan ribu tentara lagi dalam setahun.
Gibb menyatakan ia telah mengantisipasi bahwa Obama akan memberi penjelasan singkat pada para anggota Kongres mengenai strategi baru itu di Gedung Putih sebelum pergi ke West Point.
Komandan tertinggi AS dan NATO di Afghanistan, Jenderal Stanley McChrystal, konon menyetujui opsi "risiko-sedang" untuk mengirim sekitar 40.000 tentara lagi ke kancah Afghanistan. Opsi "risiko-tinggi"nya meminta 80.000 lagi tentara di wilayah itu.
Gerilyawan Taliban dan sekutu mereka giat kembali, telah membuat 2009 tahun paling mematikan bagi tentara asing di negara yang dirusak perang itu kekika dukungan rakyat berkurang pada konflik tersebut.
Beberapa pemain penting, termasuk duta besar Washington untuk Kabul Karl Eikenberry, telah menyampaikan keberatan mengenai penambahan tentara AS tanpa mitra yang dapat diandalkan dalam pemerintah Hamid Karzai, yang keabsahannya mendapat pukulan dalam pemilihan yang dinodai-kecurangan Agustus.
Jajak pendapat USA Today/Gallup yang dikeluarkan Rabu menunjukkan 55 persen rakyat Amerika tidak menyetujui penanganan Obama atas konflik itu.
Jajak pendapat CNN yang dikeluarkan Selasa menunjukkan bahwa kira-kira separuh warga Amerika mendukung penambahan tentara sementara hanya 45 persen yang mendukung perang.(*/wan)





















