berita2.com (Wellington): Gempa berkekuatan 7,4 pada Skala Richter telah mengguncang Selanda Baru, hanya 7Km di tenggara Christchurch, pada tengah malam waktu setempat, kata Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), Jumat (3/9/2010).
Tidak ada peringatan tsunami segera. USGS sebelumnya menyatakan gempa itu berkekuatan 7,3 SR. Pusat gempa ada di kedalaman 66Km dan gempa itu melanda pada pukul 1635 GMT (23.25 WIB).
Christchurch, di pantai timur South Island, adalah kota terbesar kedua Selandia Baru dengan penduduk sekitar 342.000 orang.
"Tidak ada ancaman tsunami luas yang menghancurkan yang ada berdasar pada data gempa dan tsunami historis," kata Pusat Peringatan Tsunami Pasifik
Internasional
Gempa 7,4 SR Hantam Selandia Baru
Kedubes RI di Kuala Lumpur Didemo
berita2.com (Kuala Lumpur): Unjuk rasa dibalas unjuk rasa. Sekitar seratus anggota ormas gabungan pemuda Malaysia berunjuk rasa, di depan Kedubes Indonesia, di Kuala Lumpur, Jum`at (3/9/2010) sore. Demonstran menuntut Pemerintah Indonesia, segera mengungkap siapa dalang di balik aksi-aksi demo anarkis anti Malaysia di Jakarta.
Para pengunjuk rasa menilai segelintir kelompok di Indonesia, memanas-manasi dan memperkeruh hubungan kedua negara. Mereka menilai Pemerintah Indonesia bersikap baik, demikian juga sebagian besar warga Indonesia pada umumnya.
"Rentetan aksi demo anakis diduga hanyalah aksi pihak tertentu yang ingin mengacaukan hubungan baik kedua negara bertetangga," ujar para demonstan. Pendemo meminta Pemerintah Indonesia berani menindak pihak ketiga yang mencoba merusak hubungan baik Indonesia-Malaysia.
Pekerja Puasa Dipecat
berita2.com (Roma): Pekerja muslim di Italia dilarang berpuasa selama Ramadan. Larangan tersebut dikeluarkan Komite Keselamatan Kegiatan Pertanian Italia. Mereka mengharuskan pekerja di ladang, termasuk Muslim, untuk tetap makan dan minum selama Ramadhan dengan alasan kesehatan. Jika tak patuh, mereka akan dipecat.
Peraturan itu dikeluarkan di Kota Mantufa, Italia Utara. Serikat Buruh Pusat di negeri tersebut pun menyepakati peraturan tersebut. Mereka beralasan, peraturan berdasarkan rancangan perundangan yang mengharuskan pekerja pada siang hari untuk banyak minum.
Jika mengonsumsi sedikit air di musim panas, maka dapat berisiko terkena bahaya sengatan matahari atau bahaya kekeringan serta mengakibatkan hal-hal yang membahayakan kehidupan. Itu karena cuaca panas yang sangat terik di negeri itu saat Ramadhan, lebih dari 30 derajat Celcius. Mereka menganggap dengan waktu puasa yang lebih dari 16 jam, pekerja akan tidak bertenaga.
"Para buruh yang menolak minum selama Ramadhan menciptakan persoalan yang perlu diperhatikan. Ini untuk kesehatan mereka, karena cuaca lebih dari 30 derajat celcius," ujar Komite Keselamatan Kegiatan Pertanian Italia, Roberto Cagliari, seperti dikutip Muslimdaily.com. Peraturan ini sangat tidak masuk akal, terlebih dikeluarkan menjelang Ramadan, bulan di mana umat muslim sedang dalam ghirah tertinggi untuk mengumpulkan pahala melalui ibadah wajib dan sunnah.
Peraturan itu adalah salah satu tantangan muslim di Italia saat menjalankan ibadah puasa di negeri yang mayoritas Katolik. Muslim di negeri itu adalah minoritas, dan tidak ada pengakuan negara terhadap Islam sebagai agama yang berdaulat. Pemerintah Italia pun tidak mengizinkan muslim membuat stasiun televisi atau radio yang khusus menyiarkan program-program dan acara-acara islami. Pemerintah Italia juga melarang muslim di sana menguburkan jenazah secara Islam, kecuali di kota Roma.
Dr. Abdul Wali As-Syamiri, seorang imigran Yaman di Roma, seperti dikutip dari situs KMM Mesir, mengatakan, selama di Italia dia tidak merasakan suasana Ramadan yang khas seperti di negerinya. Rasa rindu akan keluarga kerap menghampirinya, yaitu saat kebersamaan berbuka puasa.
Syamiri harus menjalankan puasa seadanya di Roma. Tanpa keluarga, tanpa makanan spesial Ramadan, dan tanpa lantunan azan atau acara religi di televisi. Meski demikian, dia masih bisa melaksanakan segala ibadah ritual Ramadan. "Kami bisa rutin melakukan salat lima waktu, tarawih, serta salat jamaah lainnya di Masjid Agung Roma," paparnya.
Pada bulan suci ini, biasanya orang Muslim di Roma, yang kebanyakan imigran, masih dapat menghidupkan malam-malam Ramadhan. Mereka bertilawah, salat malam dan iktikaf di Masjid Agung Roma.
Mesjid ini merupakan satu-satunya tempat yang bisa diandalkan untuk berbagai ibadah dan kegiatan muslim Italia. Lokasinya pun jauh dari permukiman muslim. Kebanyakan jamaah berasal dari luar kota, hanya sebagian kecil yang berasal dari sekitar masjid.
Sayangnya, suasana ini hanya dapat dirasakan oleh Muslim yang berada di Kota Roma, terutama di sekitar Masjid Agung. Sedangkan yang di tempat lain sangatlah sulit, apalagi masjid sangat minim di sana. Kalaupun ada masjid atau mushala di daerah lain, tidak semuanya mendapatkan izin resmi yang membolehkan iktikaf.
Seandainya ada yang melakukan iktikaf di masjid atau mushala yang tidak punya izin resmi, maka itu dianggap tindakan kriminal. Akibatnya, mereka hanya sekadar shalat fardu dan tarawih di masjid tersebut. Sebagian besar masjid di sana juga tidak dibolehkan memakai pengeras suara ke luar masjid. Jadi, kalau azan berkumandang, misalnya, hanya bisa didengar oleh orang-orang yang berada di dalam masjid.
Fidel Castro Merasa Ajalnya Sudah Dekat
berita2.com (Havana): Mantan Presiden dan tokoh revolusioner terkemuka Kuba, Fidel Castro mengakui bahwa ia sedang berdiri di hadapan 'gerbang kematian' ketika empat tahun lalu terpaksa menyerahkan kekuasaan kepada adiknya yang kini menjabat sebagai presiden.
Fidel Castro kembali tampil dihadapan publik Juli silam setelah hampir selama empat tahun tinggal dalam bayang-bayang.
Sejak Juli ia tampil untuk memperingatkan Amerika Serikat dan Israel bahwa peperangan dengan Iran hanya akan membawa dunia ke tepi jurang kehancuran akibat perang nuklir.
Dalam wawancara selama lima jam dengan surat kabar Meksiko, La Jornada, pria berusia 84 tahun itu mengungkapkan bahawa selama didera sakit beratnya turun di bawah 70 kilogram, sangat kurus untuk pria setinggi lebih dari 182 cm itu. "Saya tidak bisa berharap untuk hidup lebih lama lagi," kata Castro seperti yang dikutip The Telegraph, Senin (30/8).
"Saya sering kali bertanya-tanya kepada diri saya sendiri, apakah dokter-dokter tetap membuat saya hidup dalam kondisi ini ataukah mereka membolehkanku mati," Castro berkisah.
Pemerintah Kuba sendiri tidak pernah mengungkapkan penyakit yang diderita Castro sejak Juli 2006 itu.
Meski demikian luas dikabarkan ia menderita komplikasi penyakit diverticulitis, sebuah penyakit pencernaan yang umum diderita orang lanjut usia.
Fidel Castro yang digantikan oleh adiknya, Raul Castro, dirawat di sebuah lokasi rahasia selama masa pengobatannya.
Sejak kemunculannya bulan lalu, Castro kini tampak lebih tegar dan suara mantan presiden yang juga orator ulung itu telah kembali menggelegar seperti sedia kala.
Dalam wawancara itu Castro menjelaskan dirinya menjalankan beberapa kali operasi, berbaring di rumah sakit, disambungkan dengan berbagai mesin, dan ia berpikir berapa lama semuanya akan berlangsung sampai penderitaannya berakhir.
"Berbaring di tempat tidur, yang bisa saya saksikan hanyalah yang ada di sekitar saya, mesin-mesin yang saya tidak pahami. Saya tidak tahu berapa lama penderitaan itu akan berlansung, satu-satunya yang saya harapkan adalah dunia ini berhenti berputar," tutur Castro. "Tetapi saya kembali," tegasnya dengan bangga.
Masyarakat Eropa Diajak Memeluk Islam

berita2.com (Roma): Pemimpin Libya, Muammar Kadhafi berpidato di Roma, Italia yang isinya mengajak semua penduduk Eropa agar memeluk agama Islam. Pidato tersebut dihadiri oleh sedikitnya 500 wanita muda Italia yang menggunakan cadar.
Seusai pidato pada Minggu (29/8/2010) itu, tiga orang pendengar mengucapkan Shahadat dan memeluk Islam. Semua pengunjung mendapatkan glorioso corano (Al Quran). Menurut media Italia, setiap wanita yang hadir dibayar sekitar 75 euro dari sebuah biro. Mereka diharuskan berpakaian sopan. Beberapa puluh bahkan mengenakan jilbab dan cadar.
Pertemuan di Akademi Libya di Italia itu memicu kontroversi. Berbagai koran dan kalangan politik menyatakan terkejut dengan tingkah Kadhafi yang memperlakukan Italia seperti "Dufannya sendiri."
Halaman 1 dari 183
Internasional

















