berita2.com (Jakarta): Belum semua museum di Jakarta memiliki art/souvenir shop, untuk memikat pengunjung. Hal ini dikarenakan belum siapnya kalangan pebisnis untuk dapat menyuguhkan produk barang barang seni misalnya replika-replika berkaitan dengan museum dan koleksnya, atau cindera mata bentuk lain secara berkesinambungan dan dalam jumlah memadai. Namun dari segi penyuguhan atraksi, kekayaan budaya, promosi dan kebersihan museum, diharapkan dapat meningkatkan kunjungan ke museum di Jakarta.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Drs Arie Budhiman mengatakan itu atas pertanyaan wartawan ketika meninjau stand-stand pada Peringatan Hari Museum Internasional di Taman Fatahilah, Kota Tua, Jakarta, Selasa (18/5/2010).
Diberikan contoh, Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, Jakarta Utara, memang belum ada fasilitas toko cinderamata. Namun menurut kepala museumnya Gathut, kini sedang dipersiapkan. “Tetapi Museum Sejarah Jakarta, Museum Tekstil dan Museum Joang 45 sudah ada,” katanya. Museum Wayang juga menyediakan cinderamata yang cukup menarik, tambahnya.
Diakui masalah toko barang kesenian dan cinderamata merupakan lahan pelaku bisnis. “Seharusnya mereka itu dapat memanfaatkan keberadaan museum,” ujarnya. Namun diingatkan, barang barang cinderamata atau barang seni tersebut harus berorientasi pada kualitas agar diminati masyarakat.
Mengenai tidak adanya museum dan pusat kegiatan budaya di Jakarta Timur kecuali di Taman Mini Indonesia Indah, Arie mengatakan kini sedang dirancang untuk memanfaatkan gedung cagar budaya eks kantor Kodim 0505 Jakarta Timur dengan lahan seluas 6000 m2. Menurut rencana akan dimanfaatkan untuk gedung kesenian Betawi di samping nantinya ada galeri.
Nantinya fasilitas ini dapat berfungsi sebagai museum walaupun tidak menjadi museum. “Tahun ini sudah mulai dipersiapkan dan dilaksanakan sehingga dua sampai tiga tahun ke depan akan selesai,” tambah Arie Budhiman.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, Candrian mengatakan sejak revitalisasi kota tua tahun 2007 hingga sekarang kunjungan wisatawan museum-museum di kota tua meningkat tiap tahun. Dari beberapa museum di sini Museum Sejarah Jakarta yang memiliki lahan cukup luas dan fasilitas memadai paling banyak dikunjungi wisatawan.
Kepala Museum Sejarah Jakarta, Drs Raffael Nadapdap menjelaskan tahun ini tiap bulan rata-rata pengunjung museumya mencapai 45.000 orang, termasuk tamu-tamu resmi yang tidak dikenakan retribusi. Sebagai perbandingan tahun 2009 pengunjungnya rata-rata 26.583 orang tiap bulan. Hasil retribusi tahun lalu dari target Rp 130 juta dapat direalisasikan Rp400 juta. Sedang tahun ini ditargetkan Rp150 juta. Melihat kecenderungannya sekarang hasil retribusi tersebut sampai akhir 2010 diharapkan dapat mencapai Rp500 juta.
Dalam peringatan Hari Museum Internasional kemarin tampak tiap tiap museum mendirikan stand. Museum wayang memberikan workshop pembuatan wayang janur yang diminati anak-anak. Museum Pulau Onrust menampilkan maket, Museum Bank Indonesia menyelenggarakan quis berhadiah bagi penjelalajah museum. Komunitas pecinta museum menyelenggarakan wisata senja museumkota tua dengan start dari Museum Bahari.
Dalam kesempatan itu pengunjung yang berbusana batik tidak dikenakan retribusi, dan pengunjung yang berfoto dengan TREM (Tim Relawan) Kota Tua, fotonya akan dijadikan prangko yang akan dicetak terbatas. Ini dilakukan kerjasama dengan Kantor Pos Indonesia.
Tampak wisatawan domestik maupun mancanegara berfoto ria di stand stand. Ada pemandangan baru di atap depan Museum Sejarah Jakarta dipasang replica patung dewi Yunani yang bernama Themis atau Dewi Keadilan. Menurut Candrian selaku arkeolog, gedung tersebut memang bekas gedung pengadilan dan balaikota Batavia sebelum tahun 1900.
Replika tersebut karya Bobby Akmal Pamuncak, staf dan seniman UPT Kota Tua. Namun sampai kapan replica itu dipasang tergantung respon pengunjung yang diharapkan menjadi responden angket mengenai masalah itu. (Suprihardjo)


















