berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): Menurut sejarah, perayaan Imlek dilatarbelakangi oleh kelahiran Nabi Kongcu pada 551 SM. Pada zaman Dinasti Han, Kaisar Han Wu Di yang memerintah pada 140 - 86 SM, mengganti sistem kalendarnya dan mengikuti anjuran Nabi Kongcu untuk memakai sistem Dinasti Xia. Untuk menghormatinya, maka tahun kelahirannya ditetapkan sebagai tahun ke-1, menandai dimulainya perayaan Imlek oleh umat Konghucu.
Bagi masyarakat etnis Tionghoa, perayaan Imlek bukan sekadar momen pergantian tahun, namun juga memiliki makna permohonan agar pada tahun berikutnya dapat memperoleh kesejahteraan, rezeki dan keberuntungan.
Beragam adat dan tradisi dilakukan oleh masyarakat Tionghoa dalam merayakan Imlek, seperti bersembahyang ke klenteng, melakukan penghormatan kepada arwah leluhur di rumah keluarga maupun mengunjungi sanak saudara dan bersantap bersama dengan panganan khas.
Keunikan tradisi masyarakat Tionghoa dalam merayakan Imlek dan aneka panganan yang umumnya ditemui di kawasan Pecinan dapat dikenal lebih dekat dengan mengikuti program tur tematik Lunar Track.
Tur ini diadakan House of Sampoerna melalui program Surabaya Heritage Track (SHT) yang berlangsung selama 20 Januari - 19 Februari tiap Jumat-Minggu pukul 09:00, 13:00 dan 15:00. Perjalanan dimulai dan berakhir di House of Sampoerna. Pada Jumat dan Sabtu, rute perjalanan ke Toko Pia & Chung Chiu Pia Kemenangan serta Klenteng Boen Bio. Sedangkan pada Minggu, peserta (trackers) diajak mengunjungi Klenteng Hok An Kiong dan Rumah Abu Keluarga Han.
Toko Pia dan Chung Chiu Pia Kemenangan terletak di kawasan Kembang Jepun. Di sini dibuat berbagai panganan yang menjadi sajian khas saat Imlek yaitu kue Keranjang, Muaco, Lauwa dan Thong Chiu Pia. Kue – kue ini bukan hanya digemari masyarakat Tionghoa, namun juga oleh masyarakat lokal.
Toko pia tersebut didirikan oleh Tjoa Kie Hoo pada masa pendudukan Jepang sekitar 1942 - 1945. Menjelang perayaan Imlek, toko Kemenangan menyediakan panganan khas yaitu Nian Gao Yang atau kue Keranjang.
Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, Cau Kun Kong atau Dewa Dapur yang dipercaya mengawasi dapur setiap rumah, akan naik ke langit menemui Dewa Langit saat enam hari menjelang Imlek. Dengan mempersembahkan kue Keranjang yang bercita rasa legit dan kenyal, diharapkan Dewa Dapur melaporkan perilaku manusia yang baik kepada Raja Langit.
Trackers kemudian diajak mengunjungi sebuah klenteng Khonghucu, Boen Bio, yang berarti kesusasteraan atau peradaban. Klenteng ini didirikan pada 1907 oleh dua pemuka masyarakat Tionghoa di Surabaya, Go Tik Lie dan Lo Toen Siong. Pada Minggu, trackers diajak mengunjungi Hok An Kiong, klenteng tertua di Surabaya yang dibangun pada 1830. Awalnya, tempat beribadah umat Tri Dharma ini merupakan persinggahan bagi pendatang dari Tiongkok.
Biasanya mereka datang dengan membawa patung Makcho, dewi pelindung para pelaut dan nelayan, untuk disembahyangi di lokasi persinggahan. Lambat laun kawasan ini berkembang menjadi pemukiman sehingga dirasa perlu untuk membangun klenteng sebagai tempat ibadah dan penghormatan kepada Makcho atau Ma Cou Po. Kunjungan selanjutnya ke rumah abu keluarga Han di Jalan Karet.
Rumah abu merupakan bangunan yang didirikan oleh keluarga semarga dan digunakan sebagai rumah sembahyang untuk menghormati leluhur. Walaupun disebut rumah abu, namun sebenarnya di dalam rumah ini tidak tersimpan abu, melainkan sinchi (papan arwah).
Meskipun tidak menjadi rumah tinggal, rumah abu digunakan untuk menyelenggarakan upacara maupun sembahyangan untuk menghormati leluhur. Misalnya, setiap tanggal 1 bulan 1 menurut kalender Cina dilakukan Cia Gwee Che It dimana seluruh anggota keluarga akan bersembahyang kepada para leluhur, kemudian melakukan Bai Nian yaitu mengucapkan selamat tahun baru.
Rumah abu didirikan pada abad 18 oleh Han Bwee Ko, keturunan ke-6 keluarga Han. Sejarahnya diawali dengan kedatangan Han Siong Kong ke Indonesia pada 1673. Salah satu keturunannya Han Bwee Koo datang ke Surabaya dan diangkat menjadi Kapiten der Chineezen yaitu wakil pemerintah kolonial Belanda untuk menjadi pemimpin orang-orang Tionghoa di Surabaya.
Ia lalu mendirikan rumah di Chineezen Voorstraat yang sekarang bernama Jalan Karet. Rumah tinggal inilah yang kemudian menjadi rumah abu keluarga Han. Di sini dapat dilihat silsilah keturunan keluarga Han Siong Kong sampai keturunan ke-7. Saat ini, keturunan keluarga Han telah mencapai generasi ke-10.
Rani Anggraini, Museum Manager HoS, mengatakan tur tematik diselenggarakan secara berkelanjutan pada periode - periode tertentu guna memperkenalkan tempat-tempat menarik dan memiliki nilai sejarah di Surabaya.
“Tur dapat dinikmati wisatawan maupun masyarakat Surabaya secara gratis. Trackers mendapat pengetahuan dan pengalaman baru sekaligus melihat berbagai bangunan cagar budaya,” ujarnya pada Jumat (20/01/2012). (natalia)


















