berita2.com (Surabaya, Jawa Tmur): Imlek atau Tahun Baru Cina tak bisa lepas dari Potehi yaitu wayang dalam seni budaya Cina yang biasanya dipentaskan untuk menyambut perayaan Imlek.
Potehi berasal dari kata pou (kain), te (kantung) dan hi (wayang). Potehi disebut wayang boneka yang berasal dari Hokkian, Cina selaan. Kesenian ini dibawa oleh perantau etnis Tionghoa ke berbagai wilayah Nusantara pada masa lampau.
Sebagaimana pementasan wayang kulit yang diiringi pengrawit (penabuh gamelan) dan sinden, begitu pula pementasan Wayang Potehi. Biasanya diiringi 5 alat musik khas Cina yaitu Yana, Orhu, Selu, Walo dan Dongko.
Tradisi ini dihadirkan Hotel Majapahit Surabaya dengan menampilkan pameran dan pementasan Wayang Potehi di lobi selama 16 – 21 Januari. Event ini digelar oleh Komunitas Lintas Agama dan Klenteng Hong San Kiong, Gudo, Jombang.
Sebelum dibuka untuk umum, digelar pementasan Wayang Potehi yang dihadiri para undangan termasuk beberapa perwakilan dari negara sahabat yaitu Konjen Jepang dan Konjen AS di Surabaya serta Pusat Kebudayaan Prancis di kota ini. Masing – masing mendapat cendera mata wayang tersebut.
Konsul Jendral Jepang di Surabaya, Masaaki Takano, menyatakan senang menerima cendera mata tersebut. Ia mengatakan, Jepang juga memiliki seni wayang yang disebut Bunraku. Bedanya, jika Potehi biasanya dipentaskan menjelang Imlek, pementasan Bunraku bisa setiap saat, tak berkaitan dengan perayaan tertentu.
“Bentuk Bunraku mirip Potehi tapi lebih besar. Panggung untuk memainkan Bunraku juga lebih lebar,” ujarnya membandingkan dengan panggung Potehi yang kurang dari dua meter.
Pementasan Potehi ditampilkan oleh grup Fu He An pimpinan Toni Harsono (Tok Hok Lay), Ketua Klenteng Hong San Kiong. Fu He An artinya rezeki dan keselamatan. Ia juga pemilik 200 wayang Potehi yang dipamerkan bersamaan dengan pementasan.
Kisah yang diangkat dalam pementasan tersebut tentang kepahlawanan pendekar Kwe Cie Gi yang berlangsung sekitar 30 menit diiringi tabuhan beberapa alat musik Cina. Cerita dibawakan dalam Bahasa Indonesia oleh dalang (sehu) Sesomo, orang Jawa.
Menurut Toni, grup Potehi terdiri dari dalang, pembantu dalang dan para pemusik. Sedangkan cerita yang dimainkan bergantung pada permintaan, misalnya tentang kepahlawanan, kebaikan atau dewa-dewa. Untuk pementasan cerita tentang dewa-dewa, biasanya dilakukan ritual tertentu sebelumnya seperti sembahyangan.
Toni adalah keturunan seniman Potehi. Kakek dan ayahnya adalah dalang Potehi, namun ia tidak meneruskan keahlian ini. Toni mengatakan, tak mudah menjadi dalang dan ia kurang berminat. Ia lebih memilih menjadi pemilik grup Potehi.
Menjelang Imlek, Toni kebanjiran order pementasan Potehi di berbagai kota antara lain Surabaya, Malang, Jogja dan Makasar. Jika tidak ada pementasan, koleksi wayangnya dimasukkan ke dalam peti-peti.
Toni mengoleksi sekitar 3.000 buah wayang Potehi yang sebagian diwarisi dari ayahnya, sebagian lagi ia reproduksi. Namun dalam pameran tersebut, ia hanya memajang 200 wayang yang terdiri dari bermacam karakter. Yang terkenal adalah tokoh Judge Bao yang bijaksana, Pendeta Tong Sam Cong dan Jendral Kwan Kong. Dari 200 wayang tersebut, 50 diantaranya wayang kuno yang berusia seabad lebih. Warna kostumnya memang sudah lusuh, namun koleksi ini sangat berharga karena langka. (natalia)


















