berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): Kepergian seorang sastrawan perempuan Surabaya yang meninggal akibat kanker menggugah para sahabatnya untuk menggagas Festival Lan Fang. Mereka berasal dari berbagai kalangan mulai dari sesama sastrawan hingga pejabat.
Festival Lan Fang adalah persembahan untuk Lan Fang bukan hanya sebagai sosok dan pencapaiannya sebagai sastrawan, namun juga kepada semangat lintas batasnya, pluralismenya, humanismenya dan keberpihakannya kepada orang-orang yang berbeda.
Event tersebut akan berlangsung mulai 5 Januari – 11 Maret yang menghadirkan serangkaian acara. Diawali talkshow pada 5 Februari disusul pembacaan puisi Lan Fang pada 8 Januari oleh para sahabatnya. Kemudian pada 5 Februari ada musikalisasi, selanjutnya bedah novel karya Lan Fang “Perempuan Kembang Jepun” oleh Romo Sindhunata pada 16 dan 17 Februari. Berikutnya diskusi cerpen Lan Fang pada 26 Februari, disusul seminar Perempuan & Kebangsaan serta Tadarus Puisi di Ponpes Tebu Ireng.
Puncak acara digelar pada 11 Maret dengan pameran seni rupa, lukisan dan foto, penjualan buku karya Lan Fang, penyuluhan dan konsultasi kanker payudara dan serviks, pemutaran dokumentasi video dan foto Lan Fang serta pertunjukan musik pluralisme (barongsai dan rebana). Tak ketinggalan launching antologi puisi dan cerpen karya para sahabat Lan Fang.
Rangkaian acara dibuka pada Selasa (3/1/2012) di gedung Suara Surabaya Media dengan pembacaan cerpen karya Lan Fang yaitu Qiu Shui Yi, Bai She Jing dan Malam – Malam Nina oleh para sahabatnya diantaranya Errol Jonathan, dr. Ananto Sidohutomo, Zoya Herawati, Ongko Digdojo perwakilan Buddhis Education Center, Gatot Seger Santoso Wakil Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jatim dan Wagub Jatim Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul.
Sebelum pembacaan cerpen, sejumlah sahabat Lan Fang memberikan testimoni untuk berbagi kenangan ketika bersama sastrawan tersebut semasa hidup. Mereka memberikan apresiasi kepada ibu tiga anak ini.
Gus Ipul mengatakan, Lan Fang sibuk berkarya dan beraktivitas untuk orang – orang lain sampai tak memperhatikan kesehatannya sendiri. Ia hidup bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk orang – orang lain. “Ia menembus batas sosial, etnis dan agama serta memberi teladan bagi banyak orang. Kita berharap kiprahnya bisa menginspirasi masyarakat untuk berbuat lebih banyak lagi,” ujarnya.
Errol Jonathans mengatakan, semangat Lan Fang untuk menghasilkan karya sastra menular pada semua orang yang mengenalnya. Festival Lan Fang memperkuat dunia sastra yang selama ini diperjuangkannya, khususnya di Surabaya, agar kota ini menjadi kota sastra.
Rencananya pada 2013 mendatang akan diadakan Lan Fang Award, penghargaan di bidang sastra. Untuk itu akan diadakan lomba penulisan sastra secara nasional. (natalia)


















