berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): Seni budaya asing boleh saja masuk ke Indonesia, namun seni budaya asli negeri ini harus dilestarikan karena merupakan bagian dari identitas bangsa dan warisan nenek moyang. Inilah yang dilakukan Taman Budaya Jatim (TBJ) dengan menggelar seni budaya daerah setiap bulan.
Bulan ini digelar seni budaya daerah Tuban dengan tema Pesona Bumi Ronggolawe di pendopo dan halaman luas TBJ selama Kamis – Sabtu (17 – 19 November). Dalam event tersebut ditampilkan atraksi kesenian, pameran produk unggulan hingga kuliner khas kabupaten di pesisir pantai utara Jawa tersebut. Acara ini bisa dinikmati masyarakat secara gratis.
Tuban memiliki banyak potensi diantaranya seni budaya, pariwisata termasuk wisata religi, maupun kuliner. Kabupaten ini punya batik tulis tenun Gedog yang terkenal, Gua Akbar dan Gua Ngerong, Pantai Boom, Makam Sunan Bonang serta minuman Legen dan menu rajungan. Sunaryo, Kepala Bidang Pariwisata & Kebudayaan Kabupaten Tuban, mengatakan pada Kamis (17/11/2011), Tayuban merupakan kesenian tradisional Tuban yang biasanya ditampilkan pada acara tertentu seperti hajatan besar.
Untuk kuliner, imbuh Sunaryo, ciri khas masakan Tuban adalah pedas dan asin. Rasa ini juga terdapat pada menu rajungan (mirip kepiting) yang merupakan hasil laut. Hewan berkulit keras dan bercapit ini diolah menjadi menu yang lezat dan sedap. Enak disantap saat cuaca panas maupun dingin. Teman minum yang cocok adalah legen yang menyegarkan.
Rangkaian acara gelar seni budaya Tuban dimulai dengan Hastungkoro atau pembacaan doa, disusul penampilan Tari Mojo Putri, Tari Miyang, Tari Lencir Kuning dan Campursari Grebeg Budaya. Hari berikutnya ditampilkan Siteran atau permainan alat musik Siter yang dipetik dan Janggrung/Tayuban.
Tari Mojo Putri menggambarkan dunia remaja yang indah, dinamis dan penuh keceriaan. Mereka bebas berekspresi dan beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Tari Miyang menceritakan kegigihan para wanita pesisir menghadapi kehidupan ketika ditinggal para nelayan melaut (miyang).
Mereka menyambut gembira saat para nelayan pulang membawa hasil tangkapan. Sedangkan Tari Lencir Kuning mengisahkan gadis desa yang hidup tenang di lingkungan alam yang indah dan sejuk. Si gadis bak bidadari cantik yang lugu menyatu dengan alam.
Event ditutup pada Sabtu dengan Uyon-Uyon / Klenengan tim wayang kulit disusul pagelaran wayang kulit hingga dini hari Minggu. Menampilkan lakon Gondomono Tundung dengan Dalang Ki Dimas Bayu Aji Nugroho. (natalia)


















