berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): Festival Film Eropa (FFE) kembali hadir di Surabaya yang digelar Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) di Surabaya, pada Sabtu dan Minggu (19 - 20 November). Tahun ini merupakan yang kelima.
FFE atau dikenal dengan nama Europe on Screen digelar atas kerja sama perwakilan diplomatik, institusi dan pusat kebudayaan negara-negara Eropa di Indonesia. Sejak 2003, FFE rutin diselenggarakan tiap tahun. Di Indonesia, event digelar selama 28 Oktober hingga 24 November di Jogjakarta, Bandung, Jakarta, Denpasar, Banda Aceh, Surabaya dan Semarang.
Festival tahun ini mengangkat tema nasional Old and Young Europe yang menyoroti dinamika benua Eropa yang sarat dengan sejarah dan tradisi, namun tidak luput dari pembaruan di berbagai bidang. Disajikan melalui 24 film panjang dan satu film pendek dari 21 negara di Eropa yang diproduksi dalam rentang waktu lebih dari dua dekade.
Publik Surabaya berkesempatan menyaksikan dan mengapresiasi film-film pilihan. Ada 4 film yang meraih penghargaan di festival internasional. Yaitu Kinshasa Symphony produksi Jerman, Le Père De Mes Enfants dari Prancis, Dust dari Luksemburg dan Tango s Komármi dari Slovakia.
“Mengenal Eropa melalui dunia sinema diharapkan akan menjadi pengalaman yang mengasyikkan. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Semua film akan diputar dalam versi asli, dilengkapi teks bahasa Inggris,” ujar Atase Pers CCCL, Pramenda Krishna pada Jumat (18/11/2011) Pada Sabtu, diputar film Kinshasa Symphony dan Le Père De Mes Enfants (Ayah Anak-Anakku). Sedangkan Dust dan Tango s komármi (Mosquitoes' Tango) diputar pada Minggu.
Kinshasa Symphony adalah film produksi Jerman pada 2010 yang merupakan dokumenter musikal berdurasi 95 menit. Disutradarai Claus Wischmann dan Martin Baer dengan pemain Jolijn van de Wiel, Jade Olieberg dan Mees Peijenburg.
Film ini mengisahkan 200 musisi orkestra yang harus bermemain dalam gelap. Distrik Ngiri Ngiri di Kinshasa, mengalami pemadaman listrik. Pusat listriknya tidak sanggup menyediakan listrik bagi 8 juta penduduk di kota ketiga terbesar di Afrika ini. Selama orkestra bermain, listrik padam berkali-kali, namun ini bukan alasan untuk berhenti. Sebagian besar mereka telah hafal bagian yang mesti dimainkan plus bakat improvisasi.
Le Père De Mes Enfants (Ayah Anak-Anakku) adalah film produksi Prancis pada 2009 bergenre drama dengan durasi 110 menit. Disutradarai Mia Hansen-Løve serta dibintangi Chiara Caselli, Louis-Do de Lencquesaing dan Alice de Lencquesaing.
Dikisahkan Grégoire Canvel memiliki segalanya, istri dan 3 anak yang ia cintai serta pekerjaan sebagai produser yang sangat ia senangi. Grégoire penuh percaya diri dan dikagumi banyak orang. Namun perusahaannya ternyata sedang tidak stabil. Terlalu banyak film yang akan diproduksi dan banyak utang. Suatu hari, ia harus menghadapi kenyataan. Kegagalan membayangi. Tanpa disadari, keletihan yang mendalam berubah menjadi keputusasaan.
Kemudian Dust merupakan film produksi Luksemburg pada 2009 bergenre drama yang berdurasi 86 menit. Disutradarai Max Jacoby dengan pemain Catherine Steadman, Olly Alexander dan Andrew Hawley.
Mengisahkan Elodie dan Elias yang hidup bersama sejak hampir seluruh manusia di muka bumi musnah. Keharmonisan hubungan mereka terancam sejak Gabriel, seorang laki-laki yang lebih tua dari pada mereka, muncul tanpa diduga.
Terakhir adalah Tango’s Komármi (Mosquitoes' Tango), film produksi Slovakia pada 2009 yang bergenre komedi tragedi sepanjang 97 menit. Disutradarai Miloslav Luther serta dibintangi Roman Luknár, Ady Hajdu dan Tereza Nvotová.
Film ini mengisahkan dua imigran yang kembali ke tanah air setelah menghabiskan waktu sekian lama di luar negeri. Karol harus bercerai karena ia ingin menikah lagi. Lucia, tunangan Karol yang kaya, khawatir calon suaminya gagal melaksanakan rencana. Ia menyewa seorang aktor papan bawah, Rudo, untuk mengawasi Karol. Misi tersebut mendadak rumit setelah mereka tiba di Bratislava. Masa lalu mereka membayangi dan mereka harus menunjukkan siapa mereka yang sebenarnya. Kejadian-kejadian ironis yang berlangsung dalam beberapa hari mengungkap rahasia berbagai cerita. (natalia)


















