berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): Keindahan dan keanekaragaman batik Jatim tak kalah dengan batik Jateng yang lebih dulu dikenal masyarakat. Karena itu perlu dipopulerkan. Salah satu caranya dengan menyusun buku yang berisi tentang seluk beluk batik Jatim.
Hal ini dilakukan oleh Adi Kusrianto dan Yusak Anshori, Ketua East Java Carnival Board. Buku tersebut berjudul Keeksotisan Batik Jawa Timur yang diluncurkan di Surabaya Plaza Hotel (SPH) pada Kamis (27/10/2011). Acara ini dihadiri Nina Soekarwo, istri Soekarwo, Gubernur Jatim.
Menurut Yusak, ide menulis buku tersebut didasarkan kurangnya referensi batik Jatim. Buku setebal 350 halaman ini mengupas banyak hal tentang batik Jatim mulai dari sejarah, perkembangan, pengaruh maupun teknik membatik.
Yusak mengatakan, buku tersebut layak dimiliki sejarawan, para pelaku pariwisata, kalangan kampus, pecinta senin maupun masyarakat biasa. Ia menilai, Batik Jatim adalah primadona baru dalam perbatikan nasional. Banyak daerah yang menghasilkan batik mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Tuban, Tulungagung, Kediri, Lumajang, Banyuwangi, Madura hingga Pacitan.
Batik Jatim memiliki motif yang lebih beragam dibandingkan batik Jateng. Tiap daerah punya ciri khas. Misalnya Surabaya punya batik Sawunggaling dan batik Lumajang punya motif bergambar Pisang Agung yang merupakan buah primadona kota tersebut.
“Batik Jatim punya keunikan tersendiri pada motif dan warna. Sayangnya kekayaan budaya yang bagus ini tak banyak diketahui orang dan tak tereksplorasi dengan baik, bahkan oleh masyarakat Jatim sendiri,” ujar Yusak.
Karena itu, imbuhnya, buku tersebut dipersembahkan bukan hanya bagi masyarakat Jatim, namun bagi seluruh Indonesia. Buku ini sengaja diluncurkan pada Oktober yang bertepatan dengan HUT ke-66 Jatim.
Adi menambahkan, buku ini menguak keeksotisan batik Jatim dan bisa menjadi etalase dimana pembaca akan melihat, mengenal dan memahami ciri khas batik setiap daerah di propinsi ini.
“Masing-masing daerah punya ciri khas dari sisi motif, goresan canting maupun warna yang dihasilkan,” ujarnya.
Sementara itu Nina berharap, buku ini berdampak luas bagi perkembangan batik di Jatim. Ia mengatakan, Jatim memiliki sekitar 3.000 motif batik. Namun yang teridentifikasi baru 1.120 motif. Jumlah perajinnya juga relatif masih sedikit. Hanya 29.571 perajin yang tergabung di 9.824 unit usaha kerajinan batik.
Yusak berencana menerjemahkan buku tersebut ke dalam Bahasa Inggris dan Jepang untuk kepentingan wisman dan pecinta seni batik di luar negeri. (natalia)


















