berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): Buku ada jendela ilmu sekaligus jendela menuju masa lampau, masa kini maupun masa mendatang. Buku dapat membawa kita berkelana jauh melintasi waktu, berimajinasi serta menelusuri perisitiwa sejarah.
Melalui buku pula, House of Sampoerna (HoS) mengajak masyarakat untuk menambah pengetahuan tentang masa lalu dalam pameran buku kuno. Untuk itu, HoS menggandeng Erwin Dian Rosyidi memamerkan koleksi bukunya selama 22-29 November.
Erwin mulai jatuh cinta pada buku kuno sejak di SMP. Berawal dari kekagumannya terhadap sosok sang kakek yang turut berjuang saat pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Erwin pun tertarik mengkoleksi buku bertema perjuangan.
Kini koleksi buku pria kelahiran Surabaya pada 31 tahun lalu itu sudah mencapai 100 buah. Sebagian besar didapat Erwin dari rekan-rekannya, dari dalam negeri maupun luar negeri.
Pada pameran ini, dipajang lebih dari 30 buku kuno terbitan 1911-1975 dalam 4 bahasa yaitu Indonesia, Inggris, Belanda dan Jawa. di Museum HoS. Kita bisa mengenal karya tulis dan biografi dari tokoh-tokoh terkenal dunia. Salah satunya tentang Mahatma Gandhi.
Juga keindahan karya sastra. Salah satu buku kuno tersebut adalah De Chineesche Beweging of Java terbitan 1911 yang berbahasa Belanda. Buku ini bercerita tentang pergerakan masyarakat Cina di Indonesia. Ada pula buku yang menggunakan aksara Jawa terbitan 1917, yang mengangkat kisah Babad Diponegoro. Untuk sastra, ada buku Tifa Penjair dan Daerahnja karya HB Jassin pada 1953.
Lainnya adalah kumpulan dokumen mengenai perjuangan dan perkembangan politik Indonesia mulai 1945. Sejarah perjuangan bangsa juga bisa diketahui dari buku yang berisi kumpulan naskah / dokumen sejarah yang terbit pada masa kolonial Belanda dan Jepang karya Osman Raliby pada 1953.
Tak ketinggalan legenda Jawa dari buku Javaansche Sagen Mythen En Legenden karya Jos, Meijboom Italiaander pada 1924. Juga berbagai dongeng yang beredar di Indonesia, yang terangkum pada buku Folk Tales of Indonesia yang diterbitkan oleh Sterling Publishers Ltd. pada 1977. Ada pula buku yang memuat ratusan foto Indonesia karya NA Douwesdekker pada 1950-an yang berjudul Tanah Air Kita.
Erwin berharap, pameran ini dapat meningkatkan apresiasi dan kecintaan masyarakat terhadap buku, khususnya buku kuno. Buku demikian bukan hanya memiliki nilai historis yang tinggi, namun juga kandungan karya sastra yang tak ternilai pada era teknologi modern abad 21 ini.
”Hal ini juga untuk terus mendorong tumbuhnya aktivitas komunitas-komunitas pecinta buku khususnya di Surabaya,” ujarnya pada Rabu (23/11/2011). (natalia)




Setelah awal 2010 lalu, Irzen Hawer seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Batipuh Tanah Datar merilis Novel “Cinta di Kota Serambi”, kali ini Padang Panjang kembali memunculkan novelis muda, Muhammad Subhan yang akan meluncurkan Novelnya berjudul “Rinai Kabut Singgalang”.



























