berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): How to Deal If Your Man is Cheating menarik minat peserta dalam talkshow bersama psikolog Dra. Hamidah M.Si.dari Unair yang dipandu Colors Radio. Acara ini diadakan Hotel Majapahit Surabaya pada Sabtu (01/10/2011). Talkshow membahas tentang perselingkuhan termasuk penyebab, tanda-tanda dan cara mengatasinya. Topik ini mengundang respon dan curhat dari beberapa peserta yang mengalami diselingkuhi oleh pasangan.
Hamidah mendefinisikan selingkuh adalah setiap perbuatan yang disembunyikan dari pasangan sehingga mengakibatkan kecewa, sakit hati, marah dan sedih. Perselingkuham bukan hanya soal PIL atau WIL, namun juga berkaitan dengan uang.
Menurut Hamidah, selingkuh itu perilaku yang mencerminkan kepribadian. Maka bisa saja berulang. Sekali seseorang berbohong akan cenderung berbohong lagi untuk menutupi kebohongan awal. Ini akan terus berulang dan susah dihilangkan.
“Kalau seseorang peka dan tahu kebiasaan pasangannya, ia akan tahu pasangannya berselingkuh atau tidak. Ini bisa dilihat dari tanda-tandanya, misalnya pasangan uring-uringan, marah kalau ponselnya dipegang, cuek atau sebaliknya malah lebih perhatian sebagai kompensasi atas rasa bersalah karena berselingkuh. Memang ponsel merupakan barang privasi, namun privasi ada batasnya. Masa ponsel dipegang aja langsung marah,” ujarnya.
Hamidah mengatakan, dasar utama dalam suatu hubungan adalah saling percaya. Karena itu, jika ada yang disembunyikan harus dibongkar. Sering kali perempuan dalam posisi tawar yang lemah. Karena itu, perempuan harus punya bargaining power agar tak pasrah diselingkuhi pasangan. Sebaliknya harus berani mengambil keputusan dan bertindak tegas.
Menurut Hamidah, selingkuh pada masa kini bisa dikatakan merupakan pilihan gaya hidup. Bukan hanya dilakukan anak muda, namun juga oleh mereka yang berusia matang, laki-laki maupun perempuan, belum ataupun sudah menikah.
Ia menekankan, pentingnya komunikasi. Sejak awal harus ada kesepakatan dan suami istri harus memegang komitmen. Rumah tangga dibangun menurut visi dan misi bersama. Jika tidak, mau dibawa kemana?
“Ada asas kepercayaan dan keterbukaan. Sejak awal harus dibicarakan. Jika tidak, bisa timbul kecurigaan,” ujarnya.
Hamidah mengatakan, masa perkawinan 1-5 tahun pertama bisa menjadi masa yang berat dimana suami istri saling beradaptasi. Masing-masing harus menerima kelebihan maupun kekurangan pasangan namun selalu berusaha memberikan yang terbaik.
Hamidah menambahkan, kunci hidup berumah tangga adalah menjaga hati pasangan agar tetap pada keluarga. Setelah suami istri saling menyadari kesalahan, harus segera menyusun kembali tujuan membentuk rumah tangga. Jika tak ada solusi, tak ada gunanya melanjutkan rumah tangga. (natalia)