berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): Arva School of Fashion mengadakan event CSR sebagai bentuk kepeduian insan mode pada isu masyarakat dan dunia. Event ini berupa Pameran dan Charity Selling yang berlangsung di Rotunda, V-Walk, Ciputra World Surabaya, pada Selasa (29/11) hingga Minggu (4/12/2011).
Menurut Aryani Widagdo, pimpinan Arva, tujuan penyelenggaraan event ini adalah menumbuhkan dan mendukung gerakan AIDS Awarness berkaitan dengan Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember.
Ia mengatakan, pihaknya ingin para desainer membumi, bukan hanya berurusan dengan fashion yang identik dengan keglamoran, namun tetap peduli dengan isu-isu di masyarakat.
“Kita tak ingin para desainer hanya berkecimpung di dunia fashion yang kesannya eksklusif, tapi juga memperhatikan keadaan sosial di masyarakat,” ujarnya pada Selasa (29/11/2011).
Karena itu, imbuh Aryani, pada setiap CSR, Arva selalu melakukan kegiatan sosial. Pada tahun lalu, pihaknya memberikan donasi kepada Yayasan Kaliandra untuk menanam sejumlah pohon. Pada tahun ini, donasi akan diserahkan kepada Yayasan Hotline Surabaya yang fokus pada program HIV/AIDS.
Pada event kali ini diadakan berbagai lomba dengan tema utama Merah yaitu lomba membuat tas bertema Red, Bag of Hope, lomba membuat baju boneka beruang dengan tema Dress Up Your Bear dan lomba fashion photography dengan tema Shoot The Red.
Juga talk show dengan beberapa topik yang berkaitan dengan penyadaran dan dukungan terhadap penyandang AIDS/ODHA, serta Fashion Items Charity Selling yaitu penjualan amal benda-benda fashion dalam warna dominan merah sumbangan dari alumnus Arva. Misalnya sepatu avant garda karya Rhyo Surya, Corset Dress karya Ivan Julius dan Alben Ayub Andal, Kid’s Dress karya Marcellia, Evania dan Cheryl Chandra serta aksesoris karya Yoan Catharyna.
Seperti diketahui, jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia maupun di seluruh dunia terus bertambah. Menurut dr. Erwin Asta Triyonodari dari RS. dr.Soetomo Surabaya, di kota ini terdapat sekitar 600 - 700 pasien setiap tahun. Sebagian besar mereka berusia produktif.
Data dari Dinkes Surabaya menyebutkan, selama Januari – Juni 2011, jumlah penderita HIV/AIDS tertinggi di Kecamatan Sawaban yang mencapai 75 orang. Kelompok yang beresiko tinggi tertular adalah pengguna NAPZA suntik yang tercatat 4.359 orang.
Dari jenis kelamin tercatat komposisi penderita HIV/AIDS laki – laki dan perempuan berbanding 60% : 40%. Dari sisi pekerjaan atau profesi, sebagian besar adalah wiraswasta yang mencapai 121 orang. Yang memprihatinkan, jumlah penderita ibu rumah tangga cukup besar yaitu 68 orang. Bisa jadi mereka tertular dari suami mereka.
Sementara dari sisi usia, penderita HIV/AIDS terbanyak adalah usia 25 – 29 tahun yang berjumlah 101 orang. Penderita di atas usia 45 tahun juga cukup besar yaitu 56 orang. Yang memprihatikan, tercatat 2 kasus pada penderita berusia di bawah usia setahun.
“Kita prihatin, jumlah penderita HIV/AIDS terus bertambah dan usia mereka makin muda. Kita perlu terus menerus meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap masalah ini,” ujar Aryani. (natalia)