Jakarta, (berita2.com): Rupiah menjelang akhir tahun ini menunjukkan keperkasaan dibanding mata uang utama Asia lainnya terus mengalami kenaikan hingga sempat mencapai di posisi Rp9.365 per dolar AS.
Rupiah saat ini merupakan mata uang Asia yang mengalami kenaikan cukup tajam terpicu oleh aktifnya pelaku asing membeli mata uang Indonesia untuk bermain di pasar domestik membeli saham-saham.
Namun posisi rupiah yang mendekati angka Rp9.300 per dolar tidak berlangsung lama, kembali melemah hingga di atas Rp9.400 per dolar, akibat aksi profit taking (mencari untung) oleh pelaku asing.
Meski posisi rupiah masih tak menentu kadang naik atau turun, peluang untuk bisa mencapai angka Rp9.000 masih cukup besar yang didukung oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal.
Selain itu, dolar AS yang merupakan mata uang dunia pamornya mulai berkurang, bahkan sejumlah negara Teluk telah menggunakan euro sebagai mata uangnya.
Pengamat pasar uang, Farial Anwar mengatakan, rupiah berpeluang mencapai tingkat Rp9.000 per dolar AS pada akhir tahun ini, karena berbagai faktor internal maupun eksternal sangat mendukung untuk mencapai ke arah tersebut.
Peluang rupiah untuk bisa mencapai angka Rp9.000 per dolar sangat besar, karena faktor eksternal maupun internal dewasa ini sangat mendukungnya, katanya.
Farial Anwar yang juga Direktur Currency Management Board mengatakan, melemahnya dolar AS terhadap mata uang utama Asia merupakan salah satu faktor yang mendorong rupiah menguat lebih lanjut.
Selain itu juga Amerika Serikat mengalami defisit perdagangan yang mencapai 1,6 triliun dolar menunjukkan bahwa negara paman Sam itu negara yang tumbuh dari utang.
Faktor-faktor tersebut mendorong pelaku asing mulai mengalihkan dananya yang semula ditempatkan dalam bentuk dolar ke mata uang lainnya seperti euro dan emas, tuturnya.
Negara-negara Teluk seperti Irak dan Qatar sudah tidak menggunakan dolar karena mereka memakai Euro sebagai mata uang negara.
Didalam negeri, lanjut dia, pemilihan umum yang berjalan lancar dan pemerintah yang sangat dipercaya, memicu pelaku asing aktif bermain di pasar domestik. Akibatnya Indonesia kebanjiran modal asing, sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat di atas level 2.500 poin.
Selain itu selisih bunga antara rupiah dengan dolar yang masih tinggi mencapai enam persen lebih juga mendorong pelaku asing lebih suka bermain di pasar Indonesia ketimbang pasar Asia lainnya.
Pelaku asing menempatkan dananya di pasar uang seperti surat utang yang suku bunganya masih tinggi, bermain saham, dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI), jelasnya.
Apabila rupiah bisa mencapai Rp9.000 per dolar, lanjut dia, maka posisinya akan sama pada Agustus 2008 lalu yang mencapai antara Rp9.000 hingga Rp9.500 per dolar.
Namun kenaikan rupiah pada level tersebut kemungkinan mendapat hambatan dari Bank Indonesia (BI) karena BI diperkirakan mempunyai kepentingan dalam hal tersebut.
BI khawatir eksportir akan mengeluh dengan kenaikan rupiah yang berlanjut, karena hasil produknya yang dipasar diluar negeri kurang kompetitif, katanya.
BI jangan pikirkan eksportir
Menurut Farial Anwar, BI seharusnya tidak memikirkan eksportir yang hanya mencari untung dan menempatkan dananya di bank Singapura, Hongkong dan Cina, karena mereka tidak memikirkan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih lanjut.
"Kami harapkan BI tidak memikirkan eksportir. BI lebih baik fokuskan kepada ekonomi yang diperkirakan akan tumbuh lebih baik," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Keuangan PT Bank OCBC NISP, Suriyanto Chang mengatakan, rupiah diperkirakan akan dapat mencapai Rp9.000 per dolar, karena arus modal asing yang masuk makin besar.
Kenaikan rupiah yang terus terjadi diperoleh akibat kepercayaan investor asing terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat tinggi.
Apalagi Bank Indonesia (BI) telah mengubah target ekonomi yang semula 3,5-4,0 persen menjadi 4,5-5,0 persen, ujarnya.
Tidak targetkan
Sementara itu, Pejabat Sementara, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan, pihaknya tidak menargetkan nilai tukar rupiah.
"Kecenderungannya kami lebih menekankan volatilitasnya jangan terlalu tinggi, supaya dunia usaha memprediksikan keadaan," kata Darmin.
Menurut dia, nilai tukar rupiah yang tidak stabil akan membuat para pengusaha kesulitan menentukan berapa kebutuhan mata uang asing yang diperlukan.
"Kurs berubah-ubah terus akan lebih susah buat dunia usaha. Kita tahu berapa fundamental kurs rupiah, tapi ini bukan target," tegasnya.
Darmin juga mengatakan bahwa nilai tukar rupiah harus memperhatikan nilai tukar mata uang negara-negara tetangga.
"Harus memperhatikan negara tetangga, bagaimanapun kita tidak bisa sendirian," tambahnya.
Sementara itu, Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pelemahan dolar AS yang terjadi saat ini akan berdampak kepada industri dalam negeri karena impor barang yang akan lebih murah.
"Kalau dolar AS melemah maka impor akan murah, ini tantangan buat industri kita di dalam negeri karena desain policy kita yang memperkuat investasi dan konsumsi," kata Sri Mulyani.
Menurut dia, kondisi itu merupakan tantangan bagi industri dalam negeri untuk membuat harga yang lebih murah sehingga dapat bersaing dengan barang impor.
"Cost harus dibikin lebih murah, biaya infrastruktur harus makin murah. Itu semua harus diupayakan karena melemahnya dolar tidak selalu positif," kata Sri Mulyani yang juga menjabat sebagai Menteri Keuangan.
Menurut dia, fenomena itu harus menjadi perhatian pemerintahan yang baru di mana konstelasi baru kondisi global berdampak kepada Indonesia.
Menkeu menyebutkan, hal yang juga perlu diwaspadai dari pelemahan dolar AS dan penguatan mata uang lain termasuk rupiah adalah bahwa pemulihan ekspor dan perdagangan internasional tidak akan terlalu cepat.
"Kalau dolar AS melemah terlalu cepat, impor akan berkurang, berarti ekspor tidak akan melonjak seperti sebelum krisis yang mencapai 10 - 12 persen," katanya.
Menkeu menyebutkan, penguatan rupiah dan pelemahan dolar AS yang terjadi saat ini merupakan bagian dari proses dunia yang sedang mencari keseimbangan baru.
"Upaya mencari keseimbangan baru belum berakhir, memang ada upaya untuk menggeser peran dolar AS dalam transaksi global," katanya.
Menurut dia, jika dolar AS terlalu cepat melemah maka negara yang terkena dampak paling serius adalah China karena negara itu memegang hampir 2 triliun dolar AS dalam cadangan devisanya.
"Kalau dolar AS merosot hingga 30 persen maka cadangan devisa China juga merosot sebesar itu," katanya.
Sementara itu ,ketika ditanya berapa besar nilai rupiah yang ideal, Menkeu mengatakan, pemerintah tidak pernah menetapkan nilai yang ideal.
"Tidak pernah ditetapkan karena faktor-faktornya juga berubah, perkembangan ekspor dan impor juga terjadi," katanya.
Yang jelas, lanjutnya, diupayakan agar deviasi valas terhadap pondasi ekonomi kita seperti neraca pembayaran, inflasi, tidak terlalu besar.
"Selama itu terjaga, berapa pun kurs tetap dapat diterima," kata Menkeu. (*SS)

















