berita2.com (London): Kurs tengah mata uang bersama Euro berada pada 1,3077 per dolar AS di London, sedangkan yen Jepang 86,79 per dolar setelah sempat menyentuh level teringgi 57.51 dan level terendah 86,58.
Berikut kurs tengah nilai tukar valuta utama terhadap dolar Amerika Serikat di London, Kamis 2100 GMT (Jumat 0400 WIB):
Mata Uang, Kurs Akhir, Tertinggi, Terendah
* Euro 1,3077 1,3106 1,2979
* Yen Jepang 86,79 87,51 86,58
* Pound Inggris 1,5607 1,5662 1,5581
* Franc Swiss 1,0405 1,0579 1,0375
* Crown Denmark 5,6969 5,6849 5,741
* Crown Norwegia 6,0835 6,1655 6,0678
* Crown Swedia 7,223 7,3152 7,2066
* Dolar Australia 0,9 0,9042 0,8908
* Real Brasil 1,7605 1,77 1,757
* Dolar Kanada 1,0359 1,0392 1,0299
* Dolar Hong Kong 7,7667 7,7682 7,7652
* Peso Meksiko 12,763 12,7235 12,6433
* Rubel Rusia 30,25 30,1635 30,0775
* Dolar Singapura 1,3676 1,3613 1,363
* Rand Afrika Selatan 7,3266 7,3687 7,285
Moneter
Euro 1,3077 Per Dolar
Dolar Melemah
berita2.com (New York): Dolar sedikit melemah terhadap euro pada Jumat, setelah rilis hasil "stress test" (uji ketahanan) bank Eropa, di mana tujuh bank gagal, disambut oleh skeptisme di pasar.
Euro diperdagangkan pada 1,2906 dolar sekitar 2100 GMT di New York, naik dari 1,2886 dolar akhir Kamis. Terhadap mata uang Jepang, dolar menguat ke 87,36 yen dari 86,92 yen.
Euro awalnya tergelincir terhadap dolar setelah publikasi, dimulai pada 1600 GMT, dari hasil tes stres pada 91 bank Eropa. Mata uang dari 16 negara zona euro membuat kembali sedikit pada akhir perdagangan.
"Reaksi awal telah bervariasi," kata Vassili Serebriakov, seorang analis di Bank Wells Fargo. "Kita harus menunggu dan melihat pasar untuk mencerna tes lebih sedikit."
Menurut analis, "sebuah transaksi bagus dari kenaikan kembali ini telah berkurang untuk dilakukan dengan stres tes dan lebih berkaitan dengan cara pasar ekuitas di AS berakhir menguat," yang mendorong pembeli untuk meninggalkan safe haven dolar AS.
Komite Pengawas Perbankan Eropa (CEBS) mengumumkan bahwa tujuh dari 91 lembaga-lembaga keuangan Uni Eropa, yang mewakili 65 persen dari sektor perbankan Uni Eropa, telah gagal dalam tes yang dirancang untuk menilai kapasitas menghadapi krisis ekonomi atau keuangan.
Pemerintah sudah bekerja dengan tujuh bank lemah -- lima di Spanyol dan masing-masing di Jerman dan Yunani -- untuk membantu menopang keuangan mereka, kata komite.
Kegagalam tes kekuatan modal dialami bank miliki negara Jerman, Hypo Real Estate, Yunani ATEBank dan lima bank tabungan daerah di Spanyol. CEBS memperkirakan bahwa tujuh bank perlu untuk meningkatkan total 3,5 miliar euro (4,52 miliar dolar) untuk memenuhi persyaratan modal minimum.
Sebagai perbandingan, Amerika Serikat menguji 19 bank pada semester pertama 2009 dan menemukan bahwa 10 dari mereka membutuhkan sebesar 75 miliar dolar tambahan dana.
Samarjit Shankar di Bank of New York Mellon mengatakan bahwa investor tampak kecewa bahwa tes tersebut dibuat atas obligasi bank yang diperdagangan daripada yang orang-orang memiliki hingga jatuh tempo. "Euro bisa terpukul jauh lebih besar tetapi bertahan dengan cukup baik," kata Shakar.
"Sekarang bahwa hasil stress tes di belakang kami, fokus akan kembali pada apa yang fundamental beritahukan kepada kami," tambahnya, mengacu pada indikator ekonomi AS baru-baru ini yang menunjukkan pemulihan melambat.
Pada akhir perdagangan New York, pound melonjak menjadi 1,5411 dolar dari 1,5252 pada Kamis, diuntungkan data yang lebih baik dari perkiraan pada pertumbuhan ekonomi Inggris.
Ekonomi Inggris mengalami ekspansi sebesar 1,1 persen pada kuartal kedua, kecepatan terkuat sejak 2006 karena pemulihan menguat, data resmi menunjukkan. Sementara itu, dolar meningkat menjadi 1,0548 franc Swiss dalam akhir perdagangan dari 1,0430 pada Kamis (22/7/2010).
Rp 170 Triliun Uang Cash Indonesia Saat Ini
berita2.com (Jakarta): Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo memberikan jaminan kepada investor, pelaku pasar dan juga masyarakat Indonesia, bahwa struktur Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) baik APBN dan APBN-P 2010 sangat sehat.
Hal ini katanya, dapat terlihat dari porsi uang kas negara dan berbagai indikator lainnya, yang memberi jaminan bahwa Indonesia terhindar dari krisis ekonomi jilid ketiga. Namun demikian menurutnya, pemerintah tetap saja harus berhati-hati dan mengawasi berbagai kemungkinan yang terjadi.
"Indikator ekonomi suatu negara biasanya dilihat dari industri perbankannya. Kita selalu update terus data. Untuk dana kita di pajak saja, saat ini sudah ada sekitar Rp 170 triliun, dan itu cash yang bisa kita gunakan. Artinya, uang tunai kita cukup tinggi. Namun kita tetap harus hati-hati," kata Agus, seusai rapat di DPR RI, Selasa (25/5/2010).
Saat ini yang paling penting, kata Agus lagi, adalah bagaimana menjaga kondisi makro ekonomi tetap stabil, sehat dan berkesinambungan. Di mana pada tahun 2011, target defisit Indonesia diharapkan dapat menyentuh level 1,7 persen, dengan komitmen tidak menambah utang negara dan terus menutupi kekurangan dari peningkatan pendapatan negara, baik dari pajak maupun non-pajak.
Dijelaskan Menkeu, sampai dengan bulan Mei 2010, pendanaan negara dari pajak sudah terpenuhi sekitar 32 persen. Anggaran ini bisa diambil kapan saja, bila mana target penerimaan negara dari sumber lainnya tidak mencapai target. Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa utang negara pun mengalami penurunan, dari 80 persen pada tahun 2005 menjadi hanya 26 persen di tahun 2010.
"Kita juga masih punya kekuatan ekonomi lainnya. Yakni, Indonesia memiliki cadangan devisa USD 71 miliar. Padahal lima tahun yang lalu masih pada kisaran USD 50 miliar. Ini harus kita sampaikan kepada investor di luar sana, begitu juga masyarakat, bahwa ekonomi kita tetap stabil. Namun demikian, kita tidak boleh lengah dan tetap waspada, terutama terhadap krisis di Yunani yang banyak membuat investor nervous. Dan itu wajar," tambahnya.
Sementara, Agus juga mengatakan bahwa ada beberapa poin penting yang menjadi fokus utama kerja Kemenkeu yang baru digawanginya selama tiga hari tersebut. "Yang penting adalah menjaga makro ekonomi yang stabil, dengan kebijakan fiskal yang baik. Mendapatkan penerimaan pajak yang besar dan melakukan pengeluaran optimal yang efektif. Setiap pengeluaran dan belanja negara harus mengarah pada bidang-bidang yang memberikan manfaat tinggi, seperti infrastruktur, terbukanya lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan," jelasnya.
Rupiah Berada pada Posisi Rp 9000/Dolar
berita2.com (Jakarta): Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Rabu pagi (21/4/2010) menguat mencapai angka Rp9.000 per dolar AS, karena pelaku kembali membeli mata uang Indonesia, setelah kasus Goldmand Sachs yang diduga melakukan kecurangan sudah dapat diselesaikan.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar membaik menjadi Rp9.000-Rp9.010 per dolar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp9.005-Rp9.015 atau naik lima poin.
Direktur Retail Banking, Kostaman Thayib di Jakarta, Rabu mengatakan, pelaku pasar membeli rupiah, karena mereka optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia terus membaik.
Ekonomi Indonesia yang diperkirakan tumbuh di atas 5,5 persen memicu pelaku asing untuk terus membeli rupiah, katanya.
Rupiah, menurut dia, diperkirakan akan terus menguat hingga di bawah angka Rp9.000 per dolar, yang terpicu oleh membaiknya saham-saham AS yang dipimpin saham sektor finansial.
"Kami optimis rupiah akan dapat menembus angka Rp9.000 per dolar, karena faktor positif dari pasar makin kuat," katanya.
Aliran dana asing, lanjut dia yang terus masuk ke pasar domestik akibat adanya krisis yang terjadi di Thailand merupakan faktor utama bagi rupiah untuk terus menguat.
Rupiah seharusnya sudah berada di bawah angka Rp9.000 per dolar, namun tertahan oleh masuknya Bank Indonesia (BI) ke pasar.
Rupiah Anjlok 28 Poin
Jakarta (berita2.com): Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin pagi, melemah 28 poin menjadi Rp9.033-Rp9.043 per dolar dari penutupan akhir pekan lalu yang mencapai Rp9.005-Rp9.015, karena pelaku pasar melepas rupiah menyusul melemah bursa regional.
Pengamat pasar uang, Edwin Sinaga di Jakarta, Senin mengatakan, rupiah melemah terhadap dolar, karena Bank Indonesia (BI) masih berada untuk menekan rupiah agar tidak berlanjut menguat.
"BI tidak menginginkan rupiah berada di bawah angka Rp9.000 per dolar, karena para eksportir produk jualnya di pasar ekspor kurang kompetitif," katanya.
Rupiah, menurut dia juga tertekan oleh melemahnya saham-saham AS yang menekan bursa regional seperti bursa Tokyo dan bursa Hong Kong pada pembukaan pasar melemah.
"Kami optimis tekanan negatif pasar tidak akan berlanjut, karena sentimen positif yang mendorong rupiah agar berada di bawah angka Rp9.000 masih cukup kuat, " ujarnya seperti dikutip antaranews.com.
Menurut dia, aliran dana asing yang ditempat di pasar uang domestik, ke instrumen BI, dan obligasi pemerintah masih terus terjadi, karena itu peluang rupiah untuk kembali berada di bawah angka Rp9.000 per dolar masih kuat.
Bahkan aliran dana asing yang sudah terjadi selama tiga bulan hingga Mart 2010 sudah mencapai angka Rp71,9 triliun, katanya.
Jadi, lanjut dia koreksi saat ini hanya sekedar menahan pergerakan rupiah agar tidak dapat melaju hingga jauh di bawah angka Rp9.000 per dolar.
Rupiah sebelumnya sempat mencapai angka di bawah level Rp9.000 per dolar, namun kenaikan rupiah yang terlalu cepat menimbulkan kekhawatiran bahwa daya asing ekspor Indonesia akan melemah.
Artikel Lain...
Halaman 1 dari 10































