berita2.com (Palangkaraya, Kalteng): Potensi sumberdaya alam (SDA) Kalteng mendapat perhatian luar negeri. Salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terbesar kedua di China berminat untuk berinvestasi di provinsi ini.
Tujuan investor China tersebut sebenarnya Sulawesi Barat, tapi setelah mendapat informasi tentang potensi SDA Kalteng yang layak dikembangkan dan dilakukan kerja sama, mereka pun menemui Teras untuk membicarakan investasi.
Dalam pertemuan itu, Teras menyambut baik keinginan mereka dengan menawarkan beberapa hal yang bisa dikembangkan di antaranya bidang transportasi. “Kalteng menawarkan untuk pengembangan rel kereta api di Bagendang, Kabupaten Kotawaringin Timur,” kata Teras.
Selain tertarik tawaran tersebut, BUMN China mengaku berminat membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Kabupaten Murung Raya. Untuk itu, mereka berjanji akan melihat secara langsung potensi tersebut terlebih dahulu dengan melakukan studi kelayakan.
Alasan mereka tertarik membangun PLTA, kata Teras, bidang ini dinilai ramah lingkungan sesuai dengan komitmen Kalteng sebagai Green Province (provinsi hijau).
Kalteng menyatakan membuka diri terhadap pihak-pihak yang berniat menanamkan modalnya, namun diharapkan para investor tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat sekitar dan terpenting, memerhatikan kelestarian lingkungan hidup.
Harapan itu sesuai dengan konsep dan kebijakan pembangunan Kalteng, di samping memerhatikan aspek ekonomi dan sosial masyarakat, lingkungan hidup harus tetap terjaga.
Di samping menyampaikan rencana investasi BUMN China, Teras juga menyampaikan perkembangan pembangunan rel kereta api dari Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya menuju Bangkuang, Kabupaten Barito Selatan sepanjang 185km.
Sesuai jadwal, pada Agustus mendatang akan diputuskan perusahaan yang berhak membangun jaringan rel kereta api tersebut, dari empat perusahaan besar yang mengikuti tender. Empat perusahaan itu, Itochu Corporation dari Jepang, PT Bakrie Indo Infrastructure (Indonesia-Francis), PT Mega Guna Ganda Semesta (Indonesia-Cina), dan PT MAP Resources Consortiums (Inggris).(koko)