Medan, (berita2.com): Para petambak udang yang tergabung dalam Shrimp Club Indonesia menolak kebijakan dibukanya keran impor udang oleh pemerintah karena dianggap bisa menimbulkan masalah baru.
"Para petambak khawatir harga udang nantinya akan dikontrol dan adanya ancaman udang impor terindikasi menggunakan antibiotik," kata Ketua Shrimp Club Indonesia, M Safwin kepada ANTARA di Medan, Selasa.
Menurut dia, jika keran impor dibuka, maka pabrik atau "cold storage" kemungkinan akan lebih memilih produksi dari luar untuk selanjutnya menekan harga jual dari petambak.
Dia juga mengkhawatirkan masuknya udang yang terindikasi memakai antibiotik sehingga melahirkan citra buruk bagi Indonesia bila melakukan reekspor.
Diakui dia, saat ini produksi udang di Indonesia jauh dari memuaskan karena berbagai kendala. Stok udang agak terbatas sehingga "cold storage" kekurangan bahan baku.
Namun kondisi ini, lanjutnya, bisa diatasi tanpa harus melakukan impor udang. Ada cara lain yang bisa ditempuh untuk memenuhi permintaan, diantaranya memperbaiki sistem budidaya dan perbaikan manajemen dengan dukungan pemerintah.
Kendala yang dihadapi petambak selama ini juga menyangkut masalah keamanan. Uang yang dikeluarkan untuk biaya keamanan mencapai Rp2.000 per kilogram produk udang.
"Biaya untuk keamanan tersebut cukup tinggi dibandingkan dengan negara lain, sehingga wajar jika harga produk udang Indonesia lebih tinggi," katanya.
Sebagai gambaran, lanjutnya, Malaysia justru mendapat subsidi dari pemerintah sebesar satu ringgit untuk satu kilo udang.
Petambak juga mengalami kendala menyangkut kondisi lingkungan yang tercemar, sehingga banyak tambak yang kemudian dialihfungsikan jadi lahan sawit.
"Untuk satu atau dua tahun kondisi tambak masih cukup produktif, tapi pencemaran lingkungan sering memaksa petambak melakukan perbaikan yang pada akhirnya mengeluarkan biaya tinggi," katanya.(*SS)