berita2.com (Jakarta): Apapun yang dilakukan LSM pemerhati lingkungan Greenpeace, bagi Sinar Mas masalah itu bukanlah penghambat untuk melebarkan sayap bisnisnya. Bahkan penghentian pebelian produk oleh Uniliver dan Nestle sekali pun bukanlah apa-apa. Termasuk tekanan Granpeace kepada 4 perusahaan ritel juga bukan pesoalan. Untuk tetap bisa berkibar, bisnis Sinar Mas sudah merambah negeri China dengan total investasi 10 miliar dolar AS.
Belakangan ini, Pejabat Grup Sinar Mas Kawasan Tiongkok, John Tan ketika menerima wawancara wartawan CRI menyatakan, Perusahaan Sinar Mas akan berupaya keras untuk mengembangkan industri pengolahan minyak dan makanan di Tiongkok pada masa depan, terutama mengembangkan minyak goreng Daman'guan dan mi instan Huafeng.
Dikatakannya, "Saya berpendapat produk benchmark Sinar Mas di Tiongkok adalah minyak dan makanan, karena pemrosesan adalah industri yang paling kami utamakan di Tiongkok. Produk benchmark di dalam negeri Tiongkok adalah minyak goreng Daman'guan yang diproduksi di kota-kota Ningbo dan Zhuhai, selanjutnya mi instan Huafeng."
John Tan menyatakan pula, investasi Grup Sinar Mas di Tiongkok dimulai sejak awal tahun 1990-an. Pabrik pertama Grup Sinar Mas terletak di Ningbo, terutama pengolahan minyak. Sampai sekarang, volume total investasi Grup Sinar Mas di Tiongkok sudah melampaui 10 miliar dolar AS. Di antaranya, industri manufaktur pulp dan pengolahan minyak menempati urutan depan dalam negeri Tiongkok.
Jadi nyanyian sumbang Greenpeace sama saja dengan teriakan di padang pasir yang tidak ada arti apa-apa. Belum lama ini Greenpeace membuat laporan yang isinya mengungkapkan kembali pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Sinar Mas.
Organisasi lingkungan Greenpeace menuduh perusahaan raksasa agrobisnis Sinar Mas Indonesia menghancurkan hutan tadah hujan. Greenpeace lalu mendesak perusahaan-perusahaan pengecer utama agar jangan membeli produk Sinar Mas.
Dalam laporan yang dikeluarkan Selasa (6/7/2010), Greenpeace mengatakan Sinar Mas sedang merusak dua kawasan hutan tadah hujan penting di Sumatera, salah satu tempat perlindungan terakhir bagi harimau Sumatera dan orangutan yang terancam punah.
Greepeace mengatakan perusahaan Indonesia itu menggundul hutan tadah hujan untuk membuat bubur kertas guna memproduksi kertas. Laporan Greenpeace ini mendesak perusahaan-perusahaan seperti Walmart, Burger King, Dunkin’ Donuts dan KFC untuk menghentikan segera urusan dagang dengan Sinar Mas. Greenpeace memuji perusahaan-perusahaan seperti Unilever dan Nestle karena sudah menghentikan pembelian produk-produk Sinar Mas.