berita2.com. (Madiun, Jawa Timur): Perkembangan kinerja bank umum di wilayah kerja (Wilker) Bank Indonesia (BI) Kediri, Jawa Timur, mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam hal dunia usaha. Baik itu dalam hal kredit, maupun simpanan pihak ke tiga.
Menurut pimpinan Bank Indonesia Kediri, Matsisno, hingga posisi akhir Desember 2011, dibandingkan dengan posisi yang sama tahun 2010, mengalami peningkatan. Hal ini sebagai bukti bahwa roda perekonomian di wilayah kerja BI Kediri yang meliputi beberapa kota/kabuputen se-Korwil Madiun dan Kediri, terdongkrak dari sisi ekonomi.
"Seperti yang pernah saya sampaikan dalam release sebelumnya, berdasarkan volume usaha ada peningkatan 14,95% dari Rp 30.790 miliar menjadi Rp 35.394 miliar. Peningkatan ini, ada yang berasal dana dari pihak ketiga sebesar 12,21 prosen. Sebelum di tahun 2010, dana pihak ke tiga sebesar Rp 26,839 miliar. Di tahun 2011, naik menjadi Rp 30,116 miliar",terang Matsisno kepada wartawan, disela sela relokasi kantor cabang Bank Sinar Mas di Madiun, Senin (06/02/2012).
Orang nomor satu dijajaran BI Kediri ini menambahkan, nominal kredit yang diberikan oleh Bank umum di wilayah kerjanya, juga mengalami kenaikan 19,18 prosen. Pada tahun 2010, hanya menembus nominal Rp 20,111miliar. Sedangkan di tahun 2011, mencapai Rp.23.969 miliar.
Sementara itu, penghimpunan dana dari pihak ketiga masih didominasi oleh tabungan. Pada sektor tabungan, juga mengalami kenaikan 17,88 prosen. Di tahun 2010, jumlah tabungan masyarakat berjumlah Rp.15,582 miliar. Sedangkan di tahun 2011, naik menjadi Rp.18.369 milyar.
Sedangkan deposito, hanya mengalami kenaikan sebesar 5,76 prosen. Yang semula Rp 8.266 miliar di tahun 2010, menjadi Rp.8.742 miliar di penghujung tahun 2011. Sedangkan yang mengalami kenaikan paling kecil, yakni Giro. Pasalnya, Giro hanya mengalami kenaikan sebesar 0,53 prosen. Yaitu dari Rp.2,988 miliar di tahun 2010, menjadi Rp.3,004 miliar di tahun 2011.
Masih Matsisno, kredit yang disalurkan oleh Bank umum kepada masyarakat, juga mengalami meningkat 19,18 prosen. Dari Rp.20,111 miliar di tahun 2010, menjadi Rp.23.969 miliar di tahun 2011. Dengan diimbangi peningkatan kualitas kredit sehingga NPL (Non Perfoming Loan), turun dari 2,1 prosen menjadi 1,85 prosen.
"Perbankan itu harus mampu memberikan suku bunga bagus untuk tabungan maupun pinjaman. Ini agar Bank umum tetap diminati nasabah. Selain itu, pelayanan yang ramah dan santun, juga diperlukan",pungkasnya. (dib).

















