Pangkalpinang, (berita2.com) : PT PLN (Persero) wilayah Bangka menggunakan mesin pembangkit "rongsokan" yang kemampuannya terbatas dalam memenuhi kebutuhan arus listrik di daerah itu.
"Mesin PLTD Merawang yang digunakan PLN sekarang ini sudah berumur 80 tahun. Sangat tua dan rongsokan dan itulah salah satu kendala bagi kami dalam menjamin ketersediaan arus listrik bagi konsumen," kata Humas PT PLN Wilayah Bangka, Edwin di Pangkalpinang, Minggu.
Menurut dia, sebanyak 10 unit mesin PLTD Merawang sudah tidak ada nilai bukunya atau kondisinya minus mencapai tiga kali lipat.
"Ibarat mobil, nilai jualnya tidak ada lagi sudah nol persen. Mesin seperti itu yang kami kelola. Namun, masih bisa difungsikan walaupun sering rusak dan kemampuannya terbatas. Imbasnya, masyarakat mengeluh karena terjadi pemadaman bergilir," ujarnya.
Persoalan krisis listrik di Babel, kata dia, cukup dilematis karena PLN harus memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat dengan kondisi pembangkit yang sebenarnya tidak layak beroperasi.
"Sementara PLN terus merugi, untuk biaya produksi saja sebesar Rp2.600/ Kwh dengan harga jual kepada masyarakat sebesar Rp625/Kwh, sehingga kekurangannya ditanggung PLN," katanya.
PLTD Merawang tidak memiliki mesin cadangan, sebanyak 10 mesin tersebut bekerja 24 jam sehingga riskan terjadi kerusakan yang berdampak pada ketersediaan arus listrik bagi konsumen.
"Semestinya ada mesin cadangan, minimal lima unit untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan. Salah satu penyebab terjadinya pemadaman bergilir saat ini karena empat dari 10 mesin tersebut bermasalah yang sekarang masih dalam perbaikan," ujarnya.
Selain itu, kata dia, daya terpasang PLTD Merawang tidak sebanding dengan daya mampunya. Akibatnya, pada beban puncak terjadi defisit 7.800 KW karena daya terpasang 68.083 kw sementara daya mampu hanya 41.200 kw.
"Akibat terjadinya defisit 7,80 MW maka kami harus melakukan pemadaman bergilir dengan pola dua hari nyala satu hari padam selama tiga jam dengan frekuensi pemadaman lebih sering," ujarnya.
Pihak PLN berharap pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkekuatan 2x 30 megawatt dapat mengatasi kekurangan tenaga listrik di daerah itu.
"Kalau PLTU berkekuatan 2x 30 megawatt terealisasi, saya yakin krisis listrik di Babel bisa teratasi dan Babel benderang 2010 akan tercapai. Saat ini kami mendatangkan dua mesin baru untuk mengurangi pemadaman bergilir," katanya. (*un)

















