berita2.com (Padang): Pasca gempa di Sumatera Barat, pada 2009 lalu, sebanyak 107 sekolah yang mengalami rusak berat di kota Padang, hingga saat ini sudah kembali dibangun oleh lembaga non pemerintah.
"Sebanyak 47 sekolah sudah bisa selesai dan telah melaksankaan proses belajar kembali, sedangkan 67 sekolah lagi masih dalam tahap finalisasi pengerjaan," ujar Wakil Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansyarullah, usai peresmian penyerahan tiga sekolah dasar negeri yang dibangun RCTI Peduli, yang dipusatkan di SDN 14 Tabing Bandar Gadang, Kecamatan Nanggalo, pada Rabu (1/12).
Menurut Mahyeldi, semua sekolah dibangun kembali dari bantuan kepedulian dari lembaga non pemerintah nasional maupun asing. "Juga dari bantuan kepedulian BUMN serta bantuan pemirsa yang dikumpulkan televisi swasta nasional. Termasuk hari ini, peresmian tiga sekolah dasar negeri yang dibangun RCTI Peduli senilai Rp 5 miliar," ujarnya.
Dikatakan Mahyeldi, saat ini di kota Padang masih terdapat 93 unit sekolah lagi yang belum terjamah rehab-rekon, akibatnya masih ada siswa yang melakukan prose belajar dan mengajar di tenda dan lokal darurat.
"Untuk perbaikan semua sekolah korban gempa Sumbar, di Padang pihaknya membutuhkan dana sebesar Rp 2 triliun. Kalau mengandalkan bantuan dari pemerintah dengan kondisi keuangan nasional maupun daerah, saat ini mungkin butuh waktu lama lagi untuk membangun sekolah rusak akibat gempa tersebut," terang Mahyeldi.
Selain itu, Mahyeldi juga mengatakan dalam mengantisipasi bencana gempa dan tsunami kedepan, Pemerintah Kota Padang akan memangun 100 sekolah yang juga berfungsi sebagai shelter di kawasan zona merah tsunami.
"Kita sudah mempresentasikan sekolah model shleter di Kementerian Pendidikan Nasional, dengan nilai total anggaran untuk 100 sekolah shelter sebesar Rp 1,5 triliun," ujarnya.
Menurut Mahyeldi, adanya kepedulian lembaga non pemeirntah seperti yang dilakukan oleh RCTI Peduli hari ini, jadi bukti nyata bahwa pembangunan sarana dan prasarana pendidikan tidak mutlak tangungjawab pemerintah semata.
"Komitmen membangun pendidikan adalah tanggungjawab bersama baik pemerintah, orangtua murid maupun masyarakat luas, dan ini dibuktikan RCTI hari ini," ujarnya.
Sementara itu, Sekdaprov Sumbar, Mahmuda Rivai, mengatakan untuk bangkitnya dunia pendidikan Sumbar pascabencana 2009 lalu, dibutuh Rp 3 triliun.
"Dan itu tidak akan tercover dalam waktu cepat kalau pembangunan sekolah dari dana pemerintah semata, tapi bencana Sumbar lalu ada hikmahnya yakni membuhul kuat rasa kepedulian dan solidaritas sehingga program Sumbar bangkit kami lakukan dengan semangat dan komitmen bersama yang dibingkai dengan jiwa kegotongroyongan yang masih kental dimiliki bangsa ini," ujarnya.
Sementara itu, Pimpinan MNC Group, Liliana Tanu Sudibyo, mengatakan RCTI selalu berada di garda terdepan untuk program bantuan kebencanaan, kesehatan masyarakat dan pendidikan.
"Tiga SD Negeri ini dibangun lewat donasi pemirsa yang disalurkan ke RCTI. Sebelumnya pada tanggap darurat Sumbar lalu, RCTI juga merespon dengan mengirimkan dokter ahli bedah untuk penanganan pasien patah tulang dampak gempa 7,9 skala richter 30 September 2009," sebut Liliana.
Dijelaskan Liliana, kedepan melalui jalinan kasih, RCTI juga tidak akan tinggal diam untuk responsif terhadap tragedi bencana yang rentan terjadi di negeri ini.
"Kita berharap dari sekolah yang dibangun RCTI Peduli akan melahirkan siswa yang berprestasi yang mampu mengharumkan nama bangsa dan negara ini," ujarnya, disambut teriakan RCTI Oke dari lebih 150 siswa sekolah tersebut.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

















