berita2.com (Medan): Penangkapan ustadz Ahmad Ghozali yang rumahnya di Jl Pesat Ujung, Desa Bunga Tanjung, Kec Datuk Bandar Timur, Tanjung Balai, digerebek Densus 88 Mabes Polri, Minggu (19/9/2010/), dituduh hanya rekayasa Kapolri.
“Kapolri telah merekayasa penangkapan abang saya. Dia (Kapolri -red) mengatakan, saat menggrebek rumah Ghozali menemukan beberapa pucuk senjata, padahal tidak. Itu keterangan fitnah supaya dugaan kesalahan Ghozali kuat,” tuding Adil Akhyar Al Medani, adik kandung Ghozali, dalam keterangan pers di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, kemarin. Guna gugatan serangan balik pada Kapolri, keluarga Ghozali meminta bantuan hukum pada LBH Medan.
Apa bukti Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) berbohong? Adil Akhyar, Pimpinan Yayasan Darul Syifa Indonesia, menyebut, Ny. Kartini boru Panggabean, istri Ghozali, menyaksikan langsung petugas Densus memboyong suaminya tanpa penemuan barang bukti senjata api. “Cuma seperangkat komputer saja yang dibawa. Yang lain tidak ada. Jadi dari mana pula ada beberapa senjata disebut disita (dari rumah Ghozali)? Istri Ghozali langsung melihat apa-apa saja yang dibawa dari rumahnya. Jadi kita sangat tidak mengerti apa maksud Kapolri mengatakan telah menemukan beberapa pucuk senjata di rumah Ghozali. Apa sengaja mau membuat publik geger?” jawab pria berkacamata dan berlobe putih dibalut syal hitam itu.
Adil Akhyar juga menuding penggrebekan Densus 88 tidak manusiawi dan tak menghargai orang yang sedang beribadah. Versi Adil, dalam penggrebekan Minggu sore itu, sekitar 20 personil Densus masuk ke rumah abangnya itu dengan membabi buta saat Ghozali dan 3 rekannya sedang beribadah. Tiga teman Ghozali itu, menurut Adil, dua diantaranya anggota kerja Ghozali yang sehari-hari membuka usaha pijat alternatif, dan seorang lagi adalah penjual kain gordyn yang sore itu singgah guna mengutip cicilan kredit gordyn yang dibeli keluarga Ghozali.
Karena petugas (dituding) langsung main dar der dor saat masuk rumah, 3 teman Ghozali langsung bubar karena panik. Dan, 2 diantaranya –termasuk si pedagang gordyn- ditembak mati di tempat. Sedangkan seorang lagi berhasil lari ke belakang rumah Ghozali dan lolos dari kejaran petugas. Sementara Ghozali, kata Adil, tetap beribadah tapi dipukuli hingga tersungkur kemudian diangkut paksa ke dalam mobil. “Mulutnya ditutup dengan lakban,” kata Buya Adil -sapaan akrab Adil Akhyar.
Selain menangkap Ghozali dan menembak mati 2 rekannya, jelas Adil, polisi juga membawa Ny. Kartini, dan bayinya, Faturrahman Ramadhan yang berusia 28 hari ke Mapolres Tanjung Balai. Hingga kemarin, Kartini dan bayinya masih ditahan.
“Tak jelas apa status mereka, entah tersangka atau saksi. Tapi yang jelas, hampir seminggu sudah mereka tidak dizinkan pulang,” kesal Adil.
Atas tudingan rekayasa penangkapan itu, Adil -bersama Tim Pembela Muslim-mengaku sudah mengadukan kasus ini ke Komite Anti Penyiksaan International (Amnesti International). “Kita juga sudah mengadu pada Komnas Anak,” kata Adil, berharap Komisi III DPR RI memanggil Kapolri guna mempertanggungjawabkan aksi penggrebekan yang dinilainya penuh rekayasa.
Sementara, Rabbaniyah (17), putri Ghozali, juga memerotes ayahnya disebut teroris. “Bapak bukan teroris, dia penulis buku,” ujar siswi kelas III SMU Muhammadiyah, Medan Sunggal itu.
Penulis buku? Sudah berapa banyak buku yang ditulis Ghozali? Rabbaniyah mengaku tidak tahu persis jumlah buku karya ayahnya. Tapi menurutnya, selain ustadz dan membuka pijat alternatif, Ghozali telah 10 tahun berprofesi sebagai penulis buku. Dan seingatnya, salah satu judul buku yang ditulis ayahnya dan laku dijual ke Malaysia adalah ‘24 Jam Melawan Setan’.
“Itulah kerja ayah, pokoknya dia cuma di depan komputer aja kerjanya,” kata Rabbaniyah. Apakah komputernya memiliki akses internet dan sering on-line pada seseorang? “Kalau itu saya tak tahu,” jawabnya.
Lalu apa komentar LBH Medan? Tim kuasa hukum Kartini dari LBH Medan menilai aksi Densus 88 sudah tergolong pelanggaran HAM berat. “Soalnya tidak ada prosedur hukum yang dilalui dalam penggrebekan tersebut. Selain itu, aksi petugas pun sungguh luar biasa karena menghentikan orang yang sedang beribadah. Parahnya lagi, malah menembak mati sebagian dari mereka pula,” ungkap Muslim Muis SH, Wakil Direktur LBH Medan.
Atas tudingan terhadap aksi Densus itu, Muis menilai, kepolisian terkesan sengaja ingin membuat Sumatera Utara sebagai daerah operasi teroris dan karena itu, menghalalkan tembakan tanpa prosedur. “Kita tidak terima aksi seperti ini. Kita akan bawa fenomena ini ke international supaya ada penindakan,” tegas Muis, seraya mengklaim pemeriksaan istri Ghozali tidak sah karena polisi melakukan penekanan terhadapnya.
Kronologi Penggerebekan
Dalam penggrebekan teroris terkait perampokan Bank CIMB Niaga Medan itu, Densus 88 mengaku menemukan 1 pucuk senjata jenis AK-56, 1 pucuk FN-46 dan sebilah belati dari rumah Ghozali. Saat itu, Kapolda Sumut Irjen Pol Oegroseno memastikan 2 orang yang ditembak mati di rumah Ghozali adalah tersangka perampok CIMB Niaga.
Di hari yang sama pula, seorang terduga teroris juga ditembak mati Densus 88 di satu lokasi di Belawan. “Di Belawan juga terlibat kontak senjata. Dari yang di Belawan itu, anggota berhasil menemukan senjata M-16,” ujar Oegroseno.
Nah, kematian 3 terduga teroris inilah yang diyakini memicu kemarahan kawan-kawan mereka, hingga terjadilah penyerangan maut ke Polsek Hamparan Perak, Rabu (22/9) dinihari lalu. Dari total penggrebekan di Tanjung Balai, Belawan dan Hamparan Perak, Densus menangkap 19 terduga teroris dan semuanya telah diboyong ke Jakarta. (rul/fit)
Teroris Rekrut Mujahid Asing
Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri mengatakan, kelompok teroris di Indonesia akan merekrut mujahid-mujahid asal Irak, Afganistan, dan Pakistan untuk merebut kekuasaan dari tangan pemerintah. Rencana itu, kata Kapolri, telah dipersiapkan secara matang.
”Mereka akan mengambil alih kekuasaan negara dengan menegakkan daulah Islam. Ini yang akan mereka lakukan,” ucap Kapolri saat jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (24/9/2010).
Kapolri menjelaskan, untuk pendanaan, mereka merampok bank, money changer , serta showroom kendaraan bermotor. Hasilnya, digunakan untuk pembangunan tempat pelatihan, membeli senjata, dan operasional lain. Setelah berlatih, mereka melakukan pembunuhan anggota Polri maupun TNI dipos-pos dengan penjagaan lengang.
Akibat pembunuhan itu, tambah Kapolri, akan mengakibatkan masyarakat panik. Selanjutnya, kelompok teroris akan melakukan perang terbuka menyerang pos-pos Polri maupun TNI. Tindakan itu akan mendelegitimasi wibawa pemerintahan. Setelah itu, mereka akan merekrut masyarakat untuk bergabung.
”Mereka lalu akan lakukan gerilya kota, hutan dan serangan teror yang makin intensif dengan mendatangkan mujahid. Kegiatan berikutnya mengambil alih kekuasaan negara dengan menegakkan daulah Islam,” papar Kapolri.
Seperti diberitakan, Tim Densus 88 Anti Teror telah menangkap 102 orang yang diduga terlibat dalam pelatihan militer di Jalin Jantho, Aceh Besar, dan di Pegunungan Sinabung Sumatera Utara. Namun, hanya 66 orang yang diproses ke pengadilan.
Anggota teroris yang belum tertangkap lalu melakukan perampokan disejumlah tempat. Terakhir, mereka merampok Bank CIMB Niaga di Medan. 19 orang yang terlibat telah ditangkap, tiga diantaranya tewas. Tim Densus 88 Anti Teror masih memburu 15 teroris lain. (posmetro-medan)