berita2.com (Batam): Bank Indonesia Batam wilayah Kepri mencatat pertumbuhan perekonomian Kepulauan Riau dalam asesmen perekonomian di wilayah Kepri, Jumat (4/06/2010), mengalami peningkatan 9.3% pada kuartal I 2010.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, laju pertumbuhan ekonomi tahunan atau yaer on year di kuartal I – 2010 diperkirakan sebesar 9.3%. Sedangkan dikuartal II – 2010 ini Bank Indonesia Batam memperkirakan perekonomian masih atraktif dikisaran pertumbuhan 9.4%.
“Ditingkat regional Perekonomian Kepri masih kondusif, ini didorong oleh penguatan ekspor menyusul efek pemulihan ekonomi global yang semakin merata,” ujar Pimpinan Bank Indonesia Wilayah Kepri, Elang Tripraptomo.
Dia menjelaskan tingginya konsumsi saat perayaan imlek beberapa waktu lalu juga turut berkontribusi terhadap laju pertumbuhan ekonomi, konsumsi domestik masih akan menjadi andalan dikuartal mendatang dengan adanya pilkada Gubernur Kepri pada akhir Mei 2010.
“Selain itu kinerja ekspor terutama didukung oleh industri transportasi/shipyard. Pada pertengahan Januari 2010 Drydock World (DDW) Pratama (ex. Pan United) menyelesaikan jack Up Drilling Rigs L-205 haven senialai US$ 200 juta untuk aktivitas eksplorasi di Norwegia. Dan juga terdapat pembuatan kapal cepat Rudal (KRC-40) kepada PT. Palindo Marine Shipyard Batam oleh TNI-AL dengan nilai proyek mencapai Rp 60 milyar. Pemesanan kapal sampai tahun 2010 direncanakan mencapai 22 unit,” ungkapnya berita2.com di Batam.
Sementara itu ekspor industri manufaktur juga semakin bergerak stabil didorong oleh kenaikkan order dinegara-negara prinsipal, antara lain dalam bentuk barang logam dan perlengkapan mesin industri.
“Realisasi ekspor ke Singapura semakin meningkat menuju ke level normalnya. Hal ini dipengaruhi oleh pemulihan industri manufaktur Singapura secara signifikan dari level pertumbuhan 2.2% pada kuartal IV – 2009 menjadi 30 persen di kuartal I-2010. Hasilnya, pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) Singapura juga meningkat tajam dari sebelumnya 4 % menjadi 13,1%,” ujarnya lebih jauh.
Di mencoba untuk berbagai pihak melihat sisi financial, salah satunya apresiasi nilai tukar rupiah selain memperkuat daya beli domestik, juga menstimulus impor sehingga lebih kompetitif, yang pada akhirnya berimplikasi pada penurunan cost of production.
“Yang lebih menarik adalah neraca perdagangan Kepri – China pasca pemberlakuan AC-FTA relatif stabil. Dampaknya bagi Kepri cenderung positif akibat masuknya bahan baku dan barang modal yang lebih murah sehingga mempengaruhi ongkos produksi menjadi lebih kompetitif. Selain itu, peningkatan kerjasama dagang dengan China dapat memperluas pasar ekspor Kepri dari dominasi Singapura,” dia menambahkan.
Kinerja sektor industri pengolahan, sektor bangunan dan industri pariwisata yang semakin positif. Adanya kenaikkan permintaan pada sektor property tercermin dari pertumbuhan KPR tipe diatas 70 m2 dan ruko. Sedangkan sektor pariwisata masih cukup bertumpu pada agenda Visit Batam 2010. pertumbuhan sektor-sektor utama tersebut diharapkan mendorong permintaan pada sector-sektor penunjang seperti perdagangan, keuangan, restoran dan jasa-jasa, serta sector infrastruktur seperti listrik, air dan gas. (Aditya Wijaya)