Bandarlampung, (berita2.com): Sejumlah aktivis lingkungan dan kemanusiaan di Provinsi Lampung menggagas pembentukan "Jaringan Masyarakat Lampung Siaga Gempa" guna membantu upaya pemerintah meningkatkan kesiagaan dan kewaspadaan masyarakat terhadap gempa.
"Bukan hanya pada proses menambah pengetahuan tentang seputar gempa bagi masyarakat, namun juga mempersiapkan rancangan prosedur standar aktivitas pascaterjadinya gempa, seperti memobilisasi penyaluran bantuan," kata salah satu penggagas dari LSM "Kawan Tani", Ariana Suci, di Bandarlampung, Senin.
Dia mengatakan, selain dipicu oleh maraknya gempa yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini, gagasan tersebut juga didorong kepanikan saat beredarnya isu gempa 8,2 Skala Richter di wilayah Lampung beberapa waktu lalu.
"Kepanikan massa itu menunjukan betapa minimnya pengetahuan masyarakat kita terhadap gempa, sementara sosialisasi yang dilakukan pemerintah mungkin belum masksimal," kata dia.
Menurut dia, dalam hal apapun perlu dilibatkan jaringan masyarakat, karena terbatasnya sumber daya yang dimiliki oleh negara.
Dalam hal sosialisasi bencana, para aktivis melihat upaya yang dilakukan pemeintah masih belum maksimal, sehingga adanya keresahan di tingkat masyarakat di Lampung.
Sejumlah aktivis yang terlibat dalam gagasan dan wacana tersebut adalah mantan aktivis yang pernah terlibat sebagai relawan dalam membantu evakuasi dan pemulihan para korban tsunami Aceh 2004 lalu, yang tergabung dalam gerakan "Lampung Ikhlas".
Sejumlah LSM yang terlibat tersebut diantaranya adalah, Kawan Tani, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung, Mitra Bentala, Maarif Institute, Wahana Pecinta Alam (Watala), Pussbik, dan Jaringan Radio Komunitas Lampung.
"Namun untuk gagasan kali ini, kami juga akan melibatkan elemen lebih banyak, termasuk wartawan dan media," kata Suci.
Para aktivis tersebut sepakat untuk membangun kelembagaan Jaringan Masyarakat Siaga Gempa, untuk membantu pemerintah dalam upaya sosialisasi dan simulasi bencana.
Gagasan tersebut saat ini sudah memasuki tahapan formalisasi lembaga dan pembuatan program, sebagai wujud keseriusan para aktivis dalam mewujudkan gagasannya tersebut.
"Masyarakat harus bisa mengurus diri mereka sendiri saat gempa dan bencana terjadi, sehingga jumlah korban tewas menjadi lebih banyak, dan keberadaan lembaga ini bisa menjawab tantangan tersebut," kata dia.
(*ek)

















