Aksi tersebut berlangsung di depan gerbang masuk Mapolda Aceh di Banda Aceh, Senin (1/3). Mahasiswa tidak diperkenankan masuk untuk menemui petinggi Polda, mereka hanya berorasi di depan pos penjagaan.
Aksi mahasiswa itu terkait tertembaknya dua warga sipil di kawasan pegunungan Jalin, Jantho Kabupaten Aceh Besar pada Senin (22/2) dalam operasi penyisiran polisi saat mengejar kelompok yang diduga jaringan teroris.
Menurut mahasiswa, peristiwa tersebut merupakan kecerobohan dan kesalahan fatal polisi yang mengakibatkan jatuhnya korban dari warga sipil.
Selain Kamaruddin (36) yang meninggal dunia, Suheri (15) juga mengalami luka serius akibat penembakan tersebut. Keduanya berada di kawasan itu untuk mencari ikan.
Atas peristiwa tersebut, Polda Aceh sudah menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban. Namun permintaan maaf itu dinilai tidak cukup sebab polisi harus bertanggungjawab dan mengungkap hingga tuntas siapa pelaku di lapangan.
Dalam pernyataan sikapnya, AMA meminta polisi mengusut tuntas penembakan tersebut secara transparan karena dinilai bukan kecelakaan biasa.
"Kamaruddin merupakan tulang punggung keluarga, maka polisi tidak cukup hanya mengobati dan mengurus pemakaman tapi harus menjamin ekonomi, pendidikan dan kesehatan anak yang ditinggalkan," kata koordinator aksi, Zakaria Adnan.
Meskipun hujan rintik-rintik membasahi mereka, mahasiswa terus melancarkan aksi berupa orasi dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan mahasiswa sambil duduk di depan gerbang Mapolda. (*RHJ)
































