Makassar, (berita2.com) : Kubotec Internasional Jepang menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan daerah air minum (PDAM) Makassar dan Pemerintah Kota Makassar senilai 12 juta dollar.
Wali Kota Makassar Ilham Arief Siradjuddin didampingi direktur utama PDAM Makassar Tajuddin Noer, di Makassar, Kamis, mengatakan, penandatanganan nota kesepahaman yang berjangka waktu 10 tahun itu akan menyiapkan teknologi dari Jepang guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
"Penandatanganan MoU ini untuk jangka waktu delapan tahun dan ini dilakukan terkait tingginya kebocoran yang dialami PDAM hingga saat ini," ujarnya.
Dalam penandatanganan MoU itu, pihak Kubotec yang juga anak perusahaan dari Kubota Corporation menanamkan investasinya selama periode kontrak 10 tahun untuk mencapai target.
Targetnya sendiri, kata Ilham, adalah menurunkan "non revenue water" menjadi 25 persen dalam kurun waktu 5-8 tahun dan mempertahankan pada level yang sama selama dua tahun berikutnya.
"Jadi skema yang pendapatan yang 100 persen berorientasi pada hasil, yang artinya bahwa pihak Kubotec akan menerima pembayaran hasil investasinya setelah ada hasil penurunan tingkat kebocoran air atau diistilahkan non revenue water," katanya.
Dikatakannya, proyek penurunan "non revenue water" adalah langkah awal menuju hubungan yang lebih luas dengan PDAM Makassar untuk perbaikan dan pengembangan di masa mendatang sehingga PDAM Makassar bisa menjadi PDAM terbaik di Indonesia.
Presiden Direktur Kubotec Corporation Mr Yamasita mengatakan, penandatanganan nota kesepahaman ini untuk meningkatkan pelayanan dan kualitas air yang dimiliki oleh PDAM Makassar.
Karena data yang diperolehnya dari PDAM Makassar menunjukkan jika tingkat kebocoran air atau tingkat kehilangan air secara cuma-cuma mencapai angka 46 persen.
Oleh karena itu, pihaknya akan menurunkan tingkat kebocoran itu hingga 25 persen dari kapasitas air yang dihasilkan sekitar 2.340 liter/detik.
Dikatakannya, tingkat kebocoran air sangat tinggi karena mencapai angka persentase 46 persen atau setara sekitar 1000 liter/detik yang terbuang percuma.
"Karena itu, kita berusaha mengurangi tingkat kebocoran itu dengan menggunakan alat yang berasal dari Jepang," katanya.(*un)