berita2.com (Kupang, NTT): Ratusan warga pengungsi eks Timor-Timur (Timtim) yang tergabung dalam Komite Nasional Korban Politik Tim-Tim (Kokpit) mengamuk saat kembali melakukan unjuk rasa di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur, Jumat 20 Mei 2011.
Mereka tetap menuntut agar dana keserasian sosial Rp 15 miliar dibagikan kepada mereka. Karena menurut mereka dana itu sudah ada di Dinas Sosial NTT.
Saat berunjuk rasa, para eks pengungsi Tim-Tim ini juga mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian dan Polisi Pamong Praja (Pol PP). Unjuk rasa sempat ricuh karena terjadi aksi saling dorong dan pukul antara aparat dan pengunjuk rasa.
Mereka terus berteriak mencaci maki pemerintah yang tak kunjung mencairkan dana tersebut karena menurut mereka dana tersebut merupakan perjuangan mereka. Dana tersebut telah dicairkan oleh Kementerian Sosial sejak awal Februari 2011.
Amukan warga eks Tim-Tim terus berlanjut ketika bertemu Wakil Gubernur NTT, Esthon L.Foenay. Dengan nada kasar, perwakilan pengungsi, Ronie Loude, pun menilai pemerintah telah membohongi mereka.
Ronie Loude mengatakan Kokpit menuntut agar dana determinasi sebesar Rp 15 miliar yang diserahkan ke Dinas Sosial NTT dibagikan ke pengungsi eks Tim-Tim. "Dana itu adalah perjuangan kami, maka dana itu harus dibagikan ke kami," katanya.
Dia mengatakan jika pemerintah menolak membagikan dana tersebut, maka ia meminta agar pemerintah memfasilitasi eks pengungsi untuk mengurus dana tersebut ke Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri. "Hanya itu tuntutan kami," katanya.
Saat ini, warga masih bertahan di Kantor Gubernur NTT. Mereka mengancam akan menduduki Kantor Gubernur jika dana keserasian sosial itu tak diberikan.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya