berita2.com (Kupang, NTT): Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Sabu Raijua, saat ini mulai teratasi. Pemerintah kabupaten setempat telah menata penjualan dari pangkalan hingga pengecer.
Harganya juga sudah stabil. Kalau selama ini bensin dijual dengan harga sangat mahal, bahkan sampai Rp 40.000 pada saat tertentu, seperti musim barat, sekarang harganya sudah stabil. Di desa-desa, harga bensin paling mahal Rp 7.500/liter.
"Saat ini BBM di Sabu Raijua sudah bukan masalah lagi. Masalahnya sudah kami selesaikan sehingga persediaan BBM selalu aman. Harganya sudah stabil. Untuk pengecer di desa- desa, harga bensin paling mahal Rp 7.500/liter."kata Bupati Sabu Raijua Marthen L Dira Tome di Kupang, Rabu (18/5)
Dia mengatakan, selain menata pola penjualan BBM terutama bensin di daerah itu, pihaknya juga mengidentifikasi persoalan yang selama ini mendera distribusi BBM mulai dari Kupang ke Sabu Raijua.
Hasil identifikasi itu, lanjut dia, memperlihatkan sejumlah ketimpangan yang harus diselesaikan. Ketimpangan itu terjadi mulai di Kupang saat pengisian BBM ke drum-drum hingga tiba di Sabu Raijua.
Bupati Dira Tome mengungkapkan, selama ini jatah BBM untuk Kabupaten Sabu Raijua 500 drum/bulan. Namun dari jumlah itu, volume pengiriman sering dibawah jumlah tersebut.
Sebagai misal, ungkapnya, setiap drum BBM berisi 200 liter. Namun faktanya, pada drum tersebut ada yang isinya tidak penuh sesuai ukuran 200 liter. Jadi, secara umum, jumlah drumnya sama, tapi isinya tak sampai pada jatah yang ditetapkan.
Kecuali itu, lanjut dia, jatah BBM untuk Sabu Raijua yang mestinya 500 drum/bulan, sering tidak dipenuhi. Ada waktu tertentu yang volume distribusinya tidak sesuai jatah yang telah ditetapkan.
"Jadi, ada waktu-waktu tertentu yang jatah 500 drum itu tidak terpenuhi. Ditambah dengan isi tiap drum yang tidak full, maka BBM yang masuk ke Sabu Raijua itu sangat terbatas. Kondisi inilah yang mengakibatkan harga BBM melonjak tajam. Kalau biasanya Rp 7.500/liter, saat tertentu naik mencapai Rp 40.000/liter,” tambahnya..
Tentang penertiban penjualan BBM di daerah itu, lanjut dia, awalnya sempat menuai protes dari masyarakat, terutama warga yang terbiasa menjual BBM itu. Namun setelah diberi pengertian, akhirnya masyarakat memahaminya.