berita2.com (Atambua, NTT): Program pemerintah untuk menanggulangi kelaparan melalui beras miskin (raskin), ternyata telah membawa perubahan dalam kehidupan di tengah masyarakat itu sendiri. Dalam artian, masyarakat benar-benar dibantu pemerintah melalui raskin dan raskin telah mengurangi kelaparan di dua kabupaten yakni Belu dan TTU.
Raskin telah mengubah yang tidak pasti menjadi pasti. Yang sulit menjadi tidak sulit. Yang berat menjadi ringan. Raskin adalah 'dewa' penolong bagi masyarakat yang membutuhkan dalam hal ini masyarakat miskin. Apabila raskin tidak ada, maka masyarakat akan kesulitan mendapati makanan. Semua itu berkat kerja keras pihak Bulog Belu bersama pemerintah Belu dan TTU, dalam menanggulangi kelaparan.
“Ini program yang sangat membantu masyarakat, dan terkadang ada oknum petugas di lapangan yang mempersulit, sehingga masyarakat itu selalu mengeluh. Kalau oknum petugas itu mau melayani masyarakat dengan baik, maka dengan sendirinya masyarakat tidak akan mengalami kesulitan dalam memperoleh raskin tersebut.
"Dan sasarannya adalah untuk membantu masyarakat yang benar-benar membutuhkan raskin, bukannya diberikan kepada masyarakat yang mampu. Ini adalah salah. Itu adalah kesalahan yang dibuat petugas, baik di desa maupun di kecamatan. Kadang masyarakat harus menanti raskin berbulan-bulan. inilah kesalahan mutlak yang dibuat oleh petugas di lapangan.” kata kepala Bulog Atambua, Yoram Bang, ketika ditemui wartawan di ruangannya, belum lama ini.
“Saya selalu katakana kepada para kepala desa atau lurah atau camat, kalau uang yang sudah dikumpulkan masyarakat sebaiknya harus dikasih ke pihak Bulog Atambua agar masyarakat cepat menerima raskin. Tapi kalau masyarakat belum kumpul uang, biasanya kami selalu menanti.
"Kita tidak bisa memaksa, karena masyarakat juga kesulitan mendapatkan uang. Kami selalu wallcome dengan siapa saja terkait raskin. Kenapa mesti persulit masyarakat dengan raskin? Kalau uang yang sudah terkumpul harus dimasukan biar, raskin ini cepat didapat masyarakat. kasihan kan kalau masyarakat dibuat seperti itu. Saya selalu katakana terhadap bawahan, layani masyarakat dengan kasih dan jangan pernah persulit masyarakat.” ujar yoram.
Kendala terbesar yang akan dialami apabila stok tidak memenuhi permintaan. Namun, ketika yoram yang dipercaya memimpin Bulog Atambua, raskin masih dalam posisi aman dalam artian stok beras di gudang Bulog Atambua belum tersentuh dan masih dalam keadaan aman untuk melayani masyarakat yang membutuhkan beras.
Untuk Belu 9050 ton beras. TTU 4515 ton. Yang sudah direalisasi untuk Belu 5874 dan TTU 3266. Total 9.140 ton. Jadi stok untuk Belu sudah mencapai 65 persen dan TTU 72 persen. Stok masih aman. Untuk Oktober sudah masuk tahap 5 bahkan sudah mau masuk tahap 6. Pemda dari 2 kabupaten punya perhatian yang sangat bagus untuk raskin ini.
"Kita sudah sepakat bulan November 2010 sudah terealisasi semua secara baik dan sampai saat ini baru 35 persen yang terealisasi. Kita juga sudah buat tim raskin desa, kalau uang sudah terkumpul di tim raskin desa maka kita akan kasih berasnya. Tapi kalau beres, maka kita belum bisa kasih tapi kita akan buatkan jaminannya sehingga masyarakat tidak menjadi korban karena raskin.
"Untuk saat ini, kita mengalami kekurangan stok sekitar 2.225 ton untuk raskin. Stok yang ada sekitar 2.200 ton. Sebentar kapal masuk bawa stok 1.250 ton dan masih kurang 9.75 ton. Ini untuk PNS, TNI, POLRI dalam per bulan itu bisa mencapai 1.500 ton," katanya.
Sedangkan 2.475 akan masuk pada minggu ke 4 bulan oktober dan November 2010. Akhir tahun akan masuk pada bulan desember, dan untuk Belu dan TTU masih aman. Itu harga per KK Rp 1.600,- dengan beras 15 kg. sedangkan untuk Juni sampai Mei 2011 13 kg per KK. Juli sampai Desember 15 kg per KK. (Felix)


















