berita2.com (Kupang, NTT): Sebanyak 20 orang korban banjir Benenain, dari Desa Motaulun dan Lasaen, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu, memilih mengikuti program transmigrasi Antar Kabupaten Antar Daerah (AKAD) ke Kabupaten Boven Digoel, Papua.
"Kami akhirnya memilih program pemerintah ini, karena tempat tinggal yang selama ini kami diami selama bertahun-tahun sudah tidak layak dihuni pasca bencana banjir," kata Koordinator Transmigran, Simon Nahak di Kupang, Sabtu 30 April 2011.
Simon yang ditemui sesaat sebelum berangkat dari Bandara El Tari Kupang, menggunakan Merpati Nusantara Airlines dengan nomor penerbangan MZ5841 menuju Makasar untuk selanjutnya menuju Bandara Sentani Papua mengatakan, untuk saat ini keputusan transmigrasi AKAD merupakan pilihan yang tepat.
Keputusan ini juga karena kebijakan Pemerintah Kabupaten Belu untuk merelokasi korban bencana banjir sangat memberatkan karena dengan syarat harus menyiapkan lahan sendiri.
"Kami ini orang susah. Mau makan minum saja berharap dari orang lain. Apalagi harus membeli tanah. Sehingga memilih pindah ke daerah lain," katanya.
Sebelumnya para korban banjir ini berharap bantuan uang Rp300 juta dari pemerintah provinsi yang diserahkan langsung oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya bisa sebagiannya dialokasikan untuk membeli tanah untuk kepentingan relokasi.
Namun katanya harapan tersebut tidak dipenuhi pemerintah Kabupaten Belu, karena bantuan itu diperuntukkan bagi kepentingan tanggap darurat korban bencana di lokasi pengungsian.
"Kami akhirnya harus memaklumi kebijakan pemerintah daerah setempat, sehingga salah satu jalan keluar yang ditempuh adalah mengikuti program transmigrasi itu," katanya.
Martinus Seran (50) warga Desa Lasaen mengatakan untuk pertama transmigrasi, 20 orang korban banjir ini lebih dahulu ke Papua, sedangkan istri dan anak akan menyusul tahap kedua.
Ia mengatakan semula mengetahui ada lokasi penampungan di Papua melalui warga Desa Lasaen yang sejak 2006 ketika mengalami nasib serupa (disapu banjir Benanain) dan bertransmigrasi ke Kabupaten Boven Digoel, Papua.
"Pilihan ini dilakukan secara bebas tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun, demi keamanan dan kenyamanan serta keselamatan bersama keluarga," katanya.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya