berita2.com (Kupang, NTT): Balai Sungai Wilayah Nusa Tenggara II, telah mengirim sebanyak 10.000 buah karung plastik ke Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk membantu menangani luapan Sungai Benanain yang telah mengakibatkan banjir di wilayah Kecamatan Malaka Barat.
Hal tersebut dsampaikan Pelaksana Harian (Plh) Kepala Balai Sungai Wilayah Nusa Tenggara II, Suhartono, di Kupang, Selasa (19/4), terkait penanganan banjir di Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu, yang masih terus terjadi hingga saat ini.
"Kami baru sebatas mengirim karung plastik untuk penangan darurat sesuai permintaan Pemerintah Kabupaten Belu, guna mengatasi masalah yang terjadi hampir setiap tahun itu,” katanya.
Dia menjelaskan, sebelum digunakan, karung-karung plastik diisi pasir dan akan ditempatkan di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS Benanain ), guna menahan luapan air ke pemukiman dan lahan pertanian warga.
Menurutnya, untuk penanganan selanjutnya masih harus dievaluasi terlebih dahulu terkait kerusakan infrastruktur. Sebab, yang terjadi di wilayah itu, bukan karena jebolnya tanggul, tetapi karena meluapnya sungai.
Dia mengatakan, meluapnya Sungai Benanain, terjadi karena tingginya intensitas hujan sejak akhir Maret di wilayah NTT lalu ditambah banjir kiriman dari sejumalh sungai di wilayah Timor Tengah Utara (TTU) dan Timor Tengah Selatan (TTS), yang bermuara ke Sungai Benanain.
“Guna menangani masalah pada Daerah Alirasn Sungai (DAS) Benanain, diperlukan kajian menyelurh dan penangannya harus secara komprehensif, melibatkan semua stakeholdern yang ada,” tambahnya.
Wakil Bupati Belu, Ludovikus Taolin, mengatakan, banjir yang melanda 17 desa di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak akhir Maret 2011 menyebabkan kerugian mencapai Rp20 miliar.
Jumlah kerugian itu, menurut dia, akan bertambah karena semalam banjir kembali melanda sejumlah desa di Belu. "Kerugian itu belum termasuk banjir yang melanda tadi malam," katanya.
Akibat banjir yang melanda sejak 27 Maret lalu, di Kecamatan Malaka Barat sebanyak 1.296 rumah rusak, 500 rumah lainnya tidak bisa ditempati lagi karena rusak berat.
Di Kecamatan Malaka Barat itu, banjir melanda 12 desa. Sembilan desa di antaranya porak-poranda. Selain itu, warga juga masih harus menghadapi persoalan gagal panen, karena sedikitnya 1.886,6 hektare lahan pertanian rusak. 1.059 hektar lahan perkebunan terendam, dan 45 hektar tambak ikan rusak. Tidak hanya itu, ratusan ternak pun mati dan hanyut terbawa banjir.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya