berita2.com (Kupang, NTT): Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) NTT Thobias Uly mengatakan, siswa kelas III korban banjir di Belu tidak bisa mengikuti ujian susulan, jika mereka tidak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) yang dimulai Senin,18 April 2011.
"Kami beri kesempatan kepada mereka untuk mengikuti ujian susulan pada kesempatan pertama jika memang kondisinya benar-benar tidak memungkinkan,”kata Thobias Uly, di Kupang, Jumat 15 April 2011.
Menurutnya, tahun ini, peserta UN SMA di NTT berjumlah 3.450 orang dan SMK sebanyak 2.276 orang. Sedangkan peraiapan menjelang UN, sudah sangat baik dan lancar.
Dia mengatakan, khusus untuk pengiriman naskah soal UN dan kelengkapan administrasi lainnya sudah selesai .Sementara pantia daerah tinggal mendistribusikannya kepada sekolah-sekolah penyelenggara.
Menyangkut persiapan diri siswa SMA Negeri Besikama, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu, , menghadapi Ujian Nasional (UN) tahun ini , anggota Perkumpulan Masyarak Penanganan Bencana (PMPB) NTT, Rony Seran , mengatakan, sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Dia mengatakan, berbagai pola telah dirancang agar tingkat kelulusan siswa bisa maksimal, bahkan seratus persen. Di antaranya mengasramakan para siswa di sekolahnya agar mereka bisa berkonsentrasi penuh menghadapi UN.
"Saat ini seluruh siswa peserta UN di Besikama sudah berada di sekolahnya untuk diasramakan hingga penyelenggaran UN selesai," kata Rony, yang dihubungi pada kesempatan terpisah.
Selama diasramakan, para siswa melakukan kegiatan belajar serta mengikuti bimbingan belajar oleh para guru. Namun, kondisi cuaca yang tidak menentu membuat persiapan menghadapi UN terganggu. Bila banjir kembali melanda, para siswa terpaksa harus ditampung dan menjalani kegiatan belajar di tenda pengungsian.
Sejak akhir Maret 2011 lalu, sudah tiga kali banjir bandang melanda kawasan Kecamatan Malaka Barat akibat jebolnya tanggul penahan air Sungai Benanain.
Sebanyak 10 desa dari 16 desa di kecamatan tersebut terendam banjir setinggi 1,5 meter.
Dari empat SMA di daerah itu, SMA Negeri Besikama yang paling parah dilanda banjir. Kegiatan belajar kerap diliburkan karena gedung sekolah tergenang banjir.
"Meskipun dilanda banjir, siswa tetap tekun belajar. Mereka terus mempersiapkan diri dengan mengerjakan soal UN tahun sebelumnya. Apalagi sekolah ingin siswanya lulus seratus persen," ujarnya.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya