berita2.com (Kupang, NTT): Menteri Agama (Menag) Surya Dharma Ali, mengajak masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk tetap menjaga kerukunan antara umat beragama di daerah ini, yang sudah terpelihara dan terjaga dengan baik.
Hal tersebut disampaikan Surya Dharma Ali, saat mengadakan pertemuan dengan jajaran Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama di NTT, di Kupang, Selasa 5 April 2011.
Menurut Menag Surya Dharma Ali, para tokoh agama melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), agar senantiasa menjalin komunikasi untuk menjaga keanekaragaman yang ada di Indonesia, sebagai sebuah kekuatan.
Perbedaan,katanya, adalah karunai Tuhan yang indah.” Coba bayangkan kalau hidup hanya dengan satu warna budaya, pasti tidak indah. Tetapi kalau hidup dalam keanekaragaman betapa indahnya,” katanya.
Dia mengatakan, kerukunan bukanlah hal yang mudah, karena masing-masing pihak memiliki ego,tujuan, pikiran dan prinsipnya masing-masing. Untuk itu, diperlukan komunikasi dan saling pengertian satu sama lain.
“FKUB, harus tetap digalakkan untuk menjalin komunikasi, agar ketika terjadi persoalan bisa diselesaikan dengan baik,” tuturnya.
Dia menjelaskan, saat ini kerukunan di Indonesia dicederai oleh pelbagai pandangan baru dari luar yang bertentangan dengan bangsa Indonesaia, yang religius. Ada kelompok tertentu yang keluar dari prinsip yang akhirnya menimbulkan gesekan-gesekan. Ada pandangan yang datang dari luar tentang kebebasan.
Memang, tambahnya, kebebasan adalah adalah bagian dari agama dimana agama harus membebaskan keterbelakangan dan ketersesatan.Namun jangan sampai kebebasan yang tidak ada batasnya.
“Yang masuk akal saat ini adalah kebebasan yang mutlak atau absolut, yang ingin memecahbelah persatuan dan kesatuan Indonesia.Kita perlu waspada sehingga tidak terjadi saling bentrok,” tandasnya.
Sementara itu, Komandan Korem 161/ Wira Sakti Kupang, Kol ARH I Dewa Ketut Siangan, yang mewakili unsur pimpinan daerah NTT, pada kesempatan itu mengatakan, masyarakat daerah ini idak pernah membedakan antara suku, agama dan golongan. Kerukunan antarumat beragama di NTT bisa ditiru provinsi lain di Indonesia guna mengantisipasi timbulnya kekerasan atas nama agama, seperti yang terjadi di beberapa daerah.
Kerukunan antarumat beragama di NTT, katanya, merupakan hal biasa, seperti pada perayaan hari besar keagamaan, umat dari agama berbeda saling mengunjungi bahkan Umat Kristen, misalnya, menjadi petugas keamanan pada perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. "Sebaliknya, pada perayaan Natal, pemuda muslim juga datang membantu," katanya.
Situasi kerukunan antarumat beragama seperti di NTT mesti juga dirindukan di negeri ini. "Patut disayangkan jika belakangan muncul sekelompok orang yang menganggu kerukunan di antara anak bangsa," katanya.