berita2.com (Kupang, NTT): Konsorsium Relawan Peduli Banjir Benenain yang terdiri dari Yayasan Nusa Tenggara Sehat Pintar dan Setara (Nusra Septara), Abraham Foundation/STIKES CHM-K, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTT, Increase, Relawan Indonesia Raya (RIR), Ikatan Apoteker Indonesia dan Lembaga Masyarakat Peduli Timor Indonesia memberikan bantuan kepada 1.047 jiwa korban banjir di Umatoos, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu.
Koordinator Lapangan (Korlap) Tim Konsorsium Relawan Peduli Banjir Benenain, Ir. Mario Vieira, menyampaikan hal ini saat dihubungi di Kupang, Rabu 6 April 2011.
Mario mengatakan, kasus banjir yang menimpa warga di selatan Belu mengundang empati berbagai pihak, termasuk konsorsium ini. Banjir yang melanda beberapa wilayah tanggal 28-29 Maret 2011 mengakibatkan jalan inspeksi atau "tanggul" DAS Benenain jebol sepanjang 60 meter.
Air 'bah' meratakan beberapa rumah dan lahan pertanian. Dari enam belas desa di Kecamantan Malaka Barat, Belu, kata Mario, wilayah yang terendam air paling parah ada di tiga desa, yakni Umatoos, Fafoe, dan Lasaen.
Menurut warga setempat, bencana ini merupakan yang terparah dalam kurun waktu 10 tahun setelah banjir tahun 2000 yang menelan 142 korban tewas.
Walaupun tahun 2011 banjir tidak sampai menelan korban, jelas Mario, sekitar 1.447 jiwa mengungsi. "Ini menunjukkan banjir akibat jebolnya DAS Benenain tergolong besar dan menghacurkan semua lahan pertanian," jelasnya.
Data yang terhimpun dari petugas Puskesmas, John Blehur, pada tanggal 29 Maret 2011 sebanyak 374 kk atau 1.447 jiwa yang mengungsi dengan rincian kelompok rentan, 44 bayi, 307 balita, 56 ibu hamil, 168 ibu menyusui dan 248 lanjut usia (lansia).
"Kondisi ini mengundang kami tim relawan pada tanggal 2 April meninjau lokasi. Saat ini masih ada sekitar 1.047 jiwa yang tertampung di tiga titik, yakni di Umatoos, Lasaen dan Besikama," jelas Mario.
Sebagai wujud empati konsorsium, jelas Mario, pihaknya memobilisasi berbagai bantuan, baik dari lembaga maupun perorangan untuk berbagi empati dengan para pengungsi. Konsorsium relawan berhasil mengumpulkan dukungan logistik untuk disumbangkan kepada kelompok rentan, yakni bantuan obat-obatan empat dos, mie instant 25 dos, susu bubuk (16 dos), snack (milo coco) 30 dos, MP-ASI 87dos, obat-batan 20 botol, beras 4 karung, bubur sun, mie instant, SGM, sachet milo 4 dos.
"Hasil wawancara tim relawan terhadap pengungsi di lokasi, kebutuhan prioritas yang diharapkan dari pemerintah maupun non lembaga pemerintah yakni air besih, kompor, minyak tanah, tempat masak. Untuk beberapa bulan ke depan dengan gagal panen yang sudah berlangsung dua tahun pemerintah diharapkan mengantisipasi dan mencari solusi terbaik bersama masyarkat tentang kesehatan dan sanitasi serta ketersediaan pangan," kata Mario.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya


















