berita2.com (Kupang, NTT): Laju pertumbuhan penduduk Nusa Tenggara Timur selama sepuluh tahun terakhir (2000-2010) mencapai 2,10 persen per tahun, berdasarkan rekapitulasi hasil Sensus Penduduk 2010.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT Poltak Sutrisno Siahaan mengatakan itu di Kupang,Kamis (24/3).
Dia mengatakan, laju pertumbuhan penduduk Kota Kupang mencatat angka tertinggi 3,56 persen per tahun jika dibandingkan dengan kabupaten lain di NTT.Sementara laju pertumbuhan penduduk terendah di wilayah provinsi kepulauan ini adalah Kabupaten Ende hanya mencapai 1,16 persen per tahun.
Dia menjelaskan laju pertumbuhan penduduk NTT berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa rata-rata wanita di Provinsi NTT memiliki 4,2 anak, sehingga berdampak pada laju pertumbuhan penduduk.
"Laju pertumbuhan ini terjadi karena prosentase tingkat pelayanan kesehatan untuk masyarakat di daerah ini belum berjalan secara optimal," katanya .
Menurut dia, hal itu terjadi karena pasangan suami isteri yang ingin menunda kehamilan dan tidak ingin memiliki anak lagi tetapi belum mendapat pelayanan Keluarga Berencana (KB) masih sebesar 17,4 persen.
Hasil Sensus Penduduk 2010 lalu juga mencatat bahwa angka kematian ibu di NTT juga masih tinggi, yakni 306/100.000 kelahiran yang hidup, angka kematian bayi 57/100.000 kelahiran yang hidup, pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan 87,1 persen, bantuan persalinan oleh tenaga kesehatan 46,2 persen dan melahirkan pada fasilitas kesehatan hanya 20,70 persen.
"Fakta ini harus menjadi pemicu semangat pemerintah dan rakyat NTT untuk terus-menerus bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja tuntas untuk membangun daerah ini menuju pada suatu kondisi yang lebih baik," katanya.
Dalam hubungan dengan upaya tersebut, kata dia, pemerintah Provinsi NTT telah melakukan berbagai terobosan melalui delapan agenda pembangunan yang terencana dan keterkaitan erat dengan tujuan pembangunan millenium (MDG`s).
Salah satunya agenda yang akan dilakukan adalah membangun jejaring dengan semua elemen masyarakat untuk percepatan program keluarga berencana dan akselerasi penurunan angka kematian ibu dan bayi melalui revolusi kesehatan ibu dan anak (KIA) di daerah ini, katanya.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya