berita2.com (Kupang, NTT): Sebanyak sembilan kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT), rentan terhadap penyebaran penyakit rabies, sejak kasus pertama muncul tahun 1997 di Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur.
Sembilan kabupaten tersebut adalah Kabupaten Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Kabupaten Nagekeo.
Kepala Dinas Peternakan NTT Samuel Rebo menjelaskan, sejak ditemukan pertama kali, hingga saat ini tercatat 215 orang di Pulau Flores yang meninggal dunia akibat gigitan anjing pengidap penyakit rabies.
Samuel Rebo belum bisa menjelaskan ihwal asal datangnya penyakit rabies di Flores Timur. Namun, sejak ditemukan, penyebarannya terus mengalami peningkatan setiap tahun dan merebak ke seluruh daerah di Pulau Flores.
”Sejak ditemukan pertama kali di Flores Timur, hingga tahun 2011 jumlah kasus gigitan anjing rabies di Pulau Flores mencapai 27.386 kasus,” katanya di Kupang, Kamis.
Adapun jumlah kasus rabies pada tahun 2010 lalu, mencapai 4.525 kasus dengan jumlah korban tewas sebanyak 28 orang. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009 lalu, yakni 3.069 kasus meskipun korban meninggal 12 orang.
Bahkan seperti diketahui selama Januari hingga Pebruari 2011, sebanyak 234 orang di Kabupaten Sikka terjangkit penyakit Rabies.
Menurut Samuel, pihaknya sudah berupaya untuk memberikan vaksin antirabies pada anjing, namun tidak maksimal dilakukan karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk memberikan vaksin bagi hewan peliharaannya.
Kendala lain yang dialami, anjing milik warga ditempatkan di kebun yang jauh dari pemukiman sehingga sulit dilakukan vaksin. Jumlah petugas Dinas Peternakan juga terbatas untuk menjangkau seluruh wilayah.
“Kami juga kekurangan vaksin anti rabies karena pendistribusian vaksin oleh pemerintah pusat diprioritaskan untuk Pulau Bali sejak kasus rabies kembali merebak di Bali,” ujar Samuel pula.
Pada tahun 2010, misalnya, dari populasi anjing sebanyak 261.532 ekor di sembilan kabupaten di Pulau Flores, hanya sebanyak 148.096 ekor anjing yang bisa divaksin. 234 ekor anjing dieliminasi, dan sisanya 113.202 ekor anjing masih menderita rabies.
Saat ini, pihaknya sedang memperketat pengawasan lalu lintas hewan di pelabuhan untuk mengantisipasi masuknya rabies ke daerah yang masih bebas rabies, seperti Pulau Timor dan Sumba. "Kami perketat pengawasan agar daerah-daerah di Pulau Timor dan Sumba tidak terjangkit," ujarnya..
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya