berita2.com (Kupang, NTT): Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II pada tahun 2011 ini akan membangun 74 embung. di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), guna mendukung program pemerintah daerah setempat yang menjadikan daerah tersebut sebagai provinsi ternak dan provinsi jagung.
“Ke-74 embung tersebut akan dibangun di sejumlah kabupaten, dalam menunjang program pembangunan pemerintah daerah terutama disektor pertanian dan peternakan, sekaligus untuk persediaan air baku bagi masyarakat,” kata Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, Teuku Iskandar di Kupang, Rabu 9 Maret 2011.
Menurut Iskandar, tahun ini embung yang dibangun cukup banyak, dibandingkan dengan tahun 2010, yang hanya berjumlah sembilan buah. Padahal, kebutuhan akan air irigasi dan sumber air baku di NTT sangat tinggi.
Dia mengatakan, pembangunan embung selain disinergikan dengan program pemerintah daerah, pihaknya juga mempunyai rencana startegis yakni membangun minimal 50 embung setiap tahun
”Namun semuanya itu tergantung kesiapan dana.Karena tahun ini pemerintah pusat mengalokasikan dana sebesar Rp 74 miliar, maka NTT kebagian pembangunan 74 buah embung,”jelasnya.
Dia menuturkan, sinkronisasi kegiatan antara sumber dana APBN dan APBD juga mutlak diperlukan demi mendukung pelaksanaan dan percepatan pembangunan.Misalnya, tahun lalu Balai Sungai Wilayah Nusa Tenggara II hanya membangun sembilan embung, sementara Pemerintah Provinsi NTTmelalui Dinas Pekerjaan Umum setempat membangun 22 buah embung.
Lalu tambahnya, tahun ini pihaknya membangun 74 buahembung, sedangkan Dinas Pekerjaan Umum Progvinsi NTT hanya membangun 10 buah embung. Dengan begitu, ada sinergitas program sehingga tidak tumpang –tindih.
‘Adanya pembangunan embung tersebut, telah membantu pemerintah dan masyarakat NTT dalam mengatasi masalah kekurangan air, terutama sumber air baku dan irigasi ,” katanya.
Dia mengakui, untuk memenuhi ketersediaan sumber air baku dan air irigasi, NTT memasih membutuhkan 3000 – 4000 embung. Namun, dengan keterbatasan sumber dana, pembangunan membung-embung tersebut lebih dititik beratkan pada skala prioritas atrau kebutuhan..
Iskandar mengatakan, selain membangun embung baru, pihaknya juga bertanggung jawab terhadap program rehabilitasi dan revitalisasi embung-embung yang sudah ada, sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat.
“Sampia tahun 2010 lalu, sudah sekitar 200 embung yang direhabilitasi dan difungsikan kembali, terutama di daerah-daerah yang mengalami kesulitan sumber air baku, seperti di Pulau Timor, Rote Ndao dan Sabu Rai Jua,” tambahnya.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya