berita2.com (Kupang, NTT): Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), mulai tahun anggaran 2011 ini, berencana mengembangkan rumput laut dan garam di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Kami sudah mengidentifikasi , ada 12 kabupaten di NTT yang sangat cocok dan potensial untuk pengembangan rumput laut dan sembilan kabupaten untuk industri garam,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, di Kupang, Kamis 10 Februari 2011.
Menurut Fadel, di NTT berdasarkan hasil indentifikasi, ada empayt komoditas unggulan yakni jagung, ternak, rumput laut dan garam. Dan yang menjadi bidang garapan DKP adalah industri garam, yang nantinya akan bekerja sama dengan Departemen Perindustrian.
Dia mengatakan, untuk industri garam, kendatipun ada sembilan daerah potensial, pemerintah pusat telah menetapkan Kabupaten Kupang, Nagekeo, dan Kabupaten Ende, merjadi salah satu pusat industri garam nasional. Namun, daerah lain akan dikembangkan dalam skala kecil untuk kebutuhan lokal atau menjadi daerah penyanggah.
“Sedangkan pengembangan rumput laut, sangat menjanjikan dan akan membuka lapangan kerja baru dan menyerap tenaga kerja jauh lebih banyak serta investasinya yang sangat murah,: jelasnya.
Dia menyebutkan, untuk pengembangan industri garam di NTT,diperlukan lahan sekitar 11.413 hektare dengan pola investasi swasta murni . Sedangkan pengembangan rumput laut, sudah dialokasikan dana sebesar Rp32,12 miliar untuk bibit, budi daya dan klasternya.
"Pemerintah sangat optimis, pengembangan dua komoditi tersebut akan membawa dampak bagi kesejahteraan masyarakat di NTT,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Nagekeo, Yohanes Samping Aoh, yang ditemui pada kesempatan terpisah mengatakan, untuk pengembangan industri garam Pemerintah Kabupaten Nagekeo, telah menyiapkan lahan seluuas 1.247 hektare yang akan dikelolah perusahaan asal Australia, PT Cheetam Salt.
”Kepastian pemanfaatan lahan untuk pengembangan garam di Nagekeo itu disepakati dalam rapat antara pihak Kementerian Perindustrian bersama Pemerintah Kabupaten Nagekeo di Jakarta, Rabu, 2 Februari 2011 lalu,” kata Bupati Aoh.
Menurut Aoh, Lahan seluas 1.247 ha tersebut berada di empat lokasi di Kecamatan Aesesa, yakni di Kelurahan Mbay II ada dua lokasi yakni di daerah pasang surut seluas 300 ha dan di luar pasang surut 457 ha. Di Desa Maropokot seluas 300 ha dan di Desa Nggolonio 190 ha.
Dia mengatakan, penetapan lahan garam indutri didasarkan pada hasil penelitian PT Wali Sira Indonesia Timur, pada bulan Februari 2010 melalui Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Universitas Hasanuddin (LPPM Unhas) Makassar. Berdasarkan survai itu diketahui luasan lahan yang berpotensi garam sebesar 2.443 ha di dua kecamatan, yakni Aesesa (2.157 ha) dan Wolowae 286 ha.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya