berita2.com (Kupang,NTT): Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki fasilitas pelabuhan laut dan bandara udara terbanyak di Indonesia yakni 42 pelabuhan laut dan 14 bandara udara..Jumlah tersebut terdiri dari satu pelabuhan laut internasional, sembilan pelabuhan laut nasional, 11 pelabuhan regional dan 21 pelabuhan laut lokal.
”Untuk pelabuhan lokal, selama ini disinggahi kapal penumpang milik PT. Pelni, armada-armada pelayaran rakyat, armada perintis dan kapal penyeberangan feri baik yang dioperasikan PT Fery Indonesia maupun swasta,” kata Kepala Dinas Perhubungan NTT, Brino Kupok, di Kupang, Sabtu 5 Februari 2011.
Sementara khusus untuk bandara udara, menurut Burno, NTT memiliki 16 bandara. Satu bandara yakni Bandara El Tari Kupang sudah bisa didarati semua jenis pesawat, dan Bandara Frans Seda yang sedang dalam pengembangan dan diharapkan mulai 2011 sudah bisa didarati pesawat-pesawat berbadan lebar seperti jenis Boeing 737.
12 lainnya yakni Gewayang Tanah di Larantuka, Wuno Pito di Lembata, Aeroboesman Ende, Mehang Kunda di Waingapu ,Tambolaka di Sumba Barat Daya, Frans Sales Lega di Ruteng, Komodo di Labuan Bajo, Terdamu di Sabu Raijua, Lekunik di Rote , Turelelo di Ngada, Haliwen di Atambua dan Bandara Mali, di Kalabahi akan terus dibenahi.
Dia menambahkan, banyaknya jumlah pelabuhan laut dan udara ini menggambarkan bahwa NTT adalah provinsi kepulauan dan tidak bisa disamakan dengan provinsi lain seperti Bali yang hanya memiliki satu bandara udara dan satu pelabuhan laut.
Berdasarkan fakta ini, Pemerintah Provinsi NTT terus berjuang dan berupaya membenahi berbagai sarana pelabuhan ini agar semua daerah di provinsi itu bisa terkoneksi dengan baik.
Selain membenahi infrastruktur pelabuhan, pemerintah juga berupaya agar pemerintah pusat bisa dapat memberikan perhatian berupa armada kapal yang memadai untuk melayani pulau-pulau di daerah itu.
"Kita tidak mengada-ada karena inilah kondisi geografi NTT dan dukungan pemerintah pusat sangat diperlukan untuk membuka isolasi wilayah sehingga nadi perekonomian bisa bergerak," katanya.
Kata dia, masyarakat di pulau Flores, Alor, Sabu, dan Sumba bisa membawa hasil keluar daerah dan menjualnya dengan harga yang lebih baik. Untuk itu, dibutuhkan pelabuhan laut yang representatif.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya