berita2.com (Kupang,NTT): Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), akan menjadikan Kawasan Besiape, di Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Selatan (TTS), sebagai pusat pembibitan Sapi Timor, mulai tahun ini
“Kawasan yang dulu pernah dimanfaatkan Integrated Area Development Program (IADP) dari Australia, sebagai pusat pengembangan Sapi Timor, akan difungsikan kembali untuk kepentingan daerah ini,” kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Samuel Rebo, di Kupang, Selasa 1 Februari 2011.
Menurut Rebo, langkah ini diambil dalam menjawab dan mendukung keinginan pemerintah pusat menjadikan NTT sebagai salah satu daerah penyanggah kebutuhan daging nasional, demi menyukseskan program swasembada daging tahun 2014 mendatang.
Dia menjelaskan, tahun 1983 -1986, Australia pernah membangun Kawasan Besipae sebagai pusat pengembangan ternak di Pulau Timor. Kemudian diperpanjang lagi hingga tahun 1998. Namun, sayangnya, hingga IADP meninggalkan lokasi itu, proses alih terknologi kepada peternak lokal tidak terjadi.
“Pemerintah provinsi telah bertekad untuk menfaatkan kembali kawasan seluas 3.300 hektare itu untuk pembibitan dan pengembangan Sapi Timor, bekerja sama dengan Fakultas Peternakan Undana, Kupang, dan menjadikan sebagai pusat Inseminasi Buatan (IB), serta sekolah lapangan bagi peternak yang ada di NTT,” jelasnya.
Dia mengatakan, secara fisik, kawasan itu perlu pembenahan dan penataan. Sejumlah sarana dan prasarana yang ada sudah tidak bisa digunakan lagi. Saatini yang masih berfungsi baik adalah dua dari 18 embung kecil yang ada di dalam kawasan.
Menurutnya, masalah fisik kawasan sudah disampaikan kepada Gubernur Lebu Raya, untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan pemanfaatkan kembali Kawasan Besipae.
“Pemerintah pusat, juga telah mendukung gagasan dan tekad pemerintah NTT untuk menjadikan Kawasan Besipae, sebagai pusat pembibitan dan pengembangan Sapi Timor. Wujudnya dengan mengalokasikan dana Rp 90 miliar untuk pengadaan sapi bakalan dari Jawa Timur dan NTB,” jelasnya.
Sebelumnya, kata Rebo, pada tahun 2010 lalu, pemerintah pusat juga mengalokasikan dana sebesar Rp 10 miliar untuk penyelamatan sapi betina produktif yang dipotong di rumah potong hewan.”Hal ini demi mendorong peningkatan populasi sapi di NTT yang cenderung menurun karena pemotongan atau pengantarpulauan,” tambahnya.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya