berita2.com (Kefamenanu, NTT): Seorang wartawati, yang berinisial JLT dari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), pada tanggal 17 Agustus 2010 diundang pihak KBRI ke Dili untuk meliput perayaan HUT RI ke 65 di Ibukota Negara Timor Leste. Usai meliput dia mendapat perlakuan tidak senonoh dari seorang UN (PBB) POL yang diketahui identitasnya bernama Javed.
Javed yang adalah seorang muslim ketika melihat JLT tidak berpikir bahwa dirinya sedang menjalankan puasa saat itu, tetapi focus matanya tertuju pada bagian dada JLT. Tak pelak dalam moment foto bersama itu digunakan Javed untuk melakukan tindakan amoral terhadap korban, JLT.
Dikisahkan oleh JLT ketika ditemui berita2.com di Kefamenanu, dirinya waktu itu sedang takut berhadapan dengan tentara asing yang ada di RDTL. JLT saat itu hendak berontak tetapi tidak punya keberanian untuk melawan, apalagi kawan-kawannya sedang berada jauh dari posisi mereka.
“Saya diundang oleh KBRI di Dili untuk hadir dalam perayaan HUT RI ke 65 tetapi saya dilecehkan disana oleh anggota keamanan bernama Javed, yang bertugas di pos ketiga menuju Kediaman Presiden Ramos Horta. Di sana saya bersama teman dari TVRI Kabupaten Belu dan Kameramen dari TV Portugal. Dia mengajak untuk foto bersama, saat hendak difoto itulah, tiba-tiba tangannya memegang payudaraku dengan kasar. Saya ingin mengamuk saat itu tetapi saya takut, negara RDTLkan adalah negara yang sedang berbenah jangan-jangan saya lantas ditembak. Saya hanya berlari kearah mobil tumpangan kami dan langsung masuk kedalam mobil dengan air mata berderai,” kisah JLT.
Javed yang adalah tentara dari Pakistan itu ternyata tidak puas dengan aksinya. Melihat JLT sudah berlari menjauh, dia malah tertawa dan terus mengikuti JLT yang sudah mengunci diri didalam mobil.
Ikatan jurnalis Kabupaten TTU mengutuk aksi tidak senonoh tersebut. Salah Seorang badan pengurus wartawan TTU, Julianus bahkan naik pitam setelah mendengar kisah JLT.
“Wartawan dimana saja pasti bersikap situasional. Dengan rakyat kecil, dia seperti rakyat kecil, dengan orang pejabat, dia seperti pejabat. Kalau orang berbuat tidak sopan kepada wartawan maka dia saya katakan seorang teroris yang harus diwaspadai. Kita tidak tahu hukum di negara Timor Leste sudah berjalan normal atau belum. Sebagai sesama wartawan kita mengutuk sikap tidak senonoh yang diperlakukan kepada JLT. Kita wartawan batas negara harus waspadai hal-hal semacam ini. Karena itu, pihak KBRI yang mengundang teman JLT harus bertanggung jawab dan mengusut kasus ini hingga tuntas", tegas Julianus.
Korban ketika diwawancarai pada Selasa 25 januari 2011, sangat kecewa dengan pihak KBRI Dili tidak serius menangani kasus pelecehan tersebut. Sudah sejak bulan Oktober surat pengaduan dan kronologis kejadian itu disampaikan ke KBRI Dili namun beberapa kali korban bertanya ke KBRI Dili, sudah sejauh mana penanganan kasus tersebut tetapi hingga kini sama sekali tidak ada jawaban dari pihak KBRI Dili. Korban menduga, KBRI Dili lebih menjaga hubungan baik dengan perwakilan UNMIT di Dili Timor Leste tetapi tidak mampu menangani pengaduan korban.
menurut korban Informasi lain korban terima dari seorang saksi di Dili bahwa pelaku pelecehan terhadap korba wartawati sudah kembali bekerja seperti biasa dan tidak ada lagi proses lebih lanjut karena dianggap sudah selesai.
Anehnya bagi sang wartawati, diminta kesediaan KBRI Dili untuk datang ke Dili jika dibutuhkan keterangan saat proses hukum berjalan namun ternyata yang diperiksa hanya seorang saksi, juga pelaku tetapi sang wartawati sebagai korban tidak mendapat panggilan untuk diperiksa atau diambil keterangan tiba - tiba masalahnya dianggap selesai. Tandasnya Dengan nada kecewa. (Giran)