berita2.com (Kupang, NTT): Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 90 Miliar dalam Tahun Anggara 2001 ini, untuk pengadaan 300 ekor sapi dari Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Alokasi dana tersebut, sebagai wujud dukungan pemerintah pusat yang bertekad menjadikan NTT sebagai wilayah penyanggah kebutuhan daging nasional.” Kata Kepala Dinas Peternakan NTT, Samuel Rebo, di Kupang, Rabu 26 Januari 2011.
Menurut Rebo, dukungan pemerintah pusat tersebut sejalan dengan tekad Gubernur Frans Lebu Raya, yang ingin mengembalikan daerah ini sebagai gudang ternak, yang dicanangkan sejak awal masa kepemimpinannya tahun 2008 lalu.
Dia menjelaskan, untuk mendukung tekad mengembalikan NTT sebagai gudang ternak, pihaknya pada Tahun Anggaran 2010 lalu, telah menyalurkan dana kepada kelompok masyarakat untuk pembelian sapi betina produktif.
“Kebijakan ini diambil untuik meminimalisir pemotongan api betina produktif yang akan berdampak pada peningkatan populasi sapi, terutama di daerah pengembangannya seperti Timor dan Sumba,” katanya.
Dia menambahkan, Dinas Peternakan NTT juga menerapkan pola penjualan sapi betina yang bunting tiga bulan ke kelompok lain,. Namun, pola ini dipandang tidak menguntungkan, karena harga jual sapi betina yang bunting dan tidak bunting hampir sama.
Dia mengatakan, penerapan pola ini, untuk sementara masih dijalankan di Pulau Timor,karena kelompok masyarakat menginginkan, penjualan sapi bisa dilakukan setelah sapi itu beranak, sehingga kelompok tidak dirugikan.“Pola ini, akan kita kembangkan dan dievaluasi secara berkala, mengingat banyak kelompok masyarakat, mengharapkan bantuan ternak tersebut,” ujarnya.
Menyangkut minat investor yang melirik peluang usaha di bidang peternakan sapi, Rebo mengatakan, investasi di bidang ini sudah dilakukan Pusat KUD NTT, sejak beberapa tahun lalu, yang mengembangkan usaha penggemukan dan pembibitan di Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang dan Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo.
“Untuk tahun 2011 ini, ada sebuah konsorsium yang dipimpin Indra Hasan, dari Jakarta, melirik usaha ranch di Kabupaten Sumba Tengah. Konsorsium ini akan mengembangkan usaha penggemukan dan pembibitan sapi, dengan nilai investasi Rp 100 miliar,” jelasnya.
Kata dia, guna mendukung investasi tersebut, Pemkab Sumba Tengah dan masyarakat telah menyiapkan lahan seluas 1.500 hektare. Saat ini, pihak investor sedang melakukan peninjauan lokasi dan pembicaraan dengan pemerintah daerah setempat.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya





