berita2.com (Kupang, NTT): Pemerintah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggandeng United Nation Children's Fund (Unicef) mengembangkan usaha garam di daerah itu. Salah satu potensi garam di daerah itu ada di Oeteta, Kecamatan Sulamu selain di Desa Tanah Merah dan Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bagian Humas Pemkab Kupang, Stefanus Baha,di Kupang, Rabu 26 Januari 2011. Menurut Baha, pemerintah setempat sudah bekerja sama dengan Unicef dalam mengembangkan potensi garam di daerah itu, baik dari segi pengelolaan maupun pemasaran.
"Kami gandeng Unicef, selain mengembangkan juga beri dampingan kepada pengrajin. Ini kita efektifkan terutama di Desa Tanah Merah dan Oebelo karena pengrajin masih didampingi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kupang dalam hal iodisasi (memberi zat yodium pada garam)," jelasnya.
Dia mengatakan, produksi garam di Oebelo dan Tanah Merah memang masih dilakukan secara tradisional, kecuali Oeteta yang sudah dalam skala yang cukup besar. Padahal potensi garam di Kabupaten Kupang sangat menjanjikan dari segi bisnis selain untuk pemenuhan gizi masyarakat.
"Untuk Teluk Kupang potensinya cukup baik, hanya produksinya sempat terhenti sejak tahun 1990-an karena pengelolanya hanya diberi hak guna usaha (HGU) oleh pemerintah," katanya.
Dia mengakui, saat ini usaha garam di Oebelo dan Tanah Merah masih menemui kendala pada kemasan, karena kemasan yang ada sulit untuk dibawa ke luar atau ke tempat yang jauh. "Saat ini kemasan masih dari daun siwalan (gebang), sehingga kalau kemasannya kita ganti tentu akan menambah nilai jual,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, Eddy H. Ismail, yang dihubungi pada kesempatan terpisah mengatakan, wilayah perairan seperti Teluk Kupang dan di Nagekeo mempunyai salinitas yang sangat baik untuk memproduksi garam.
"Dua wilayah ini punya potensi yang sangat baik untuk menghasilkan garam. Kita terus dorong agar garam di NTT bisa berkembang dan bisa memenuhi kebutuhan sendiri," kata Eddy.
Tentang sentuhan yang akan diberikan kepada petani garam, Eddy mengakui pihaknya akan bekerja sama dengan Kabupaten Kupang untuk menerapkan teknologi evaporasi bertingkat. Untuk saat ini, akan diterapkan pada lokasi produksi garam di Oeteta.
"Di Oeteta ada sekitar 10 hektar (ha) tambak garam yang selama ini kita kelola dengan produksi dalam satu musim mencapai 70 ton/ha, sehingga kita akumulasi dalam satu musim produksinya bisa mencapai 600-700 ton," katanya.
Pemerintah, kata Eddy, tentu terus memberi perhatian kepada produksi garam yang ada di Nagekeo dan juga di Kabupaten Kupang di Oeteta. "Semua ini bisa menurunkan besarnya nilai impor garam baik ke Indonesia maupun NTT," ujarnya.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya