berita2.com (Kupang, NTT): Ratusan nelayan di Kabupaten Kupang, masih menganggur karena tidak melaut selama hampir dua pekan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh cuaca buruk dan laut yang tidak bersahabat.
Pantauan di sepanjang Pantai Tablolong, Sabtu pagi , terdapat sekitar 50 perahu dan sampan (perahu kecil) nelayan yang sudah ditarik ke tepi pantai .Deretan sampan ini tidak beraturan karena ada yang ditarik sampai di titik pasang surut dan ada pula yang sampai di garis pantai.
Ada pula perahu yang ditempatkan di depan rumah warga. Beberapa perahu juga terlihat berlabuh di laut. Perahu ini umumnya berkapasitas lebih besar daripada sampan. Di pantai itu tampak sejumlah nelayan duduk santai. Ada juga yang membereskan perahu mereka.
Marlens Lauwoie, Borgias Tupu dan Yonas Tupu, tiga nelayan Tablolong, mengatakan, tahun ini cuaca cukup berbeda dengan tahun lalu, karena sudah hampir dua minggu lebih mereka tidak melaut.
Marlens Lauwoie mengatakan, selama ini dirinya hanya istirahat di rumah. Sesekali dia melihat sampan yang sudah ditarik ke pantai. "Kalau dalam sehari kami bisa mendapat uang Rp 100.000 hingga Rp 250.000, maka saat ini tidak ada pemasukan sama sekali. Jika kami kalkulasi dengan pendapatan kami setiap hari, maka dalam dua pekan ini kami merugi antara Rp 2 - Rp 3 juta," katanya.
Sedangkan Yonas Tupu menjelaskan, dalam kondisi normal, mereka bisa mendapat keuntungan mencapai Rp 250.000 ke atas, tapi sekarang mereka tidak bisa mendapat apa-apa.
"Sekarang ini memang ada nelayan yang mencari ikan, tapi hanya satu atau dua orang saja. Mereka itu menggunakan perahu motor yang agak besar. Ikan yang mereka dapat tidak sebanyak saat cuaca normal," kata Yonas dibenarkan Borgias.
Tentang harga jual ikan, Yonas mengakui, sulitnya melaut berdampak pada harga jual ikan. Karena itu, lanjutnya, harga ikan saat ini rata-rata Rp 25.000 hingga Rp 50.000/ekor. Harga jual ini khusus untuk ikan belang kuning dan gargahing.
Sementara itu, rumput laut yang dibudidayakan petani Tablolong juga terancam rusak dan gagal tumbuh. Kondisi ini akibat hantaman gelombang laut di wilayah itu saat cuaca buruk seperti sekarang.
Sejumlah petani rumput laut yang ditemui mengatakan, sejak dua pekan lalu gelombang di perairan yang mereka gunakan untuk mengusahakan rumput laut tidak bersahabat.
"Rumput laut yang baru kami ikat untuk menjadi bibit ternyata putus karena gelombang. Begitu pula dengan tali yang kami pakai untuk ikat," kata Borgias Tupu.
Dia menjelaskan, kegiatan mereka saat ini adalah mengikat bibit, namun kebanyakan bibit itu terlepas dihempas gelombang. Bukan saja terlepas dari ikatan, tetapi ada pula yang putus. "Kalau kondisi begini terus, kami bisa gagal panen. Kalaupun ada, hasilnya pasti menurun," ujarnya.
(Albertus)