berita2.com (Kupang, NTT): Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan membuat peta resiko dan sejarah bencana di provinsi kepulauan itu.
“Peta resiko ini penting agar dalam mengambil kebijakan pembangunan, pemerintah bisa mempertimbangkan wilayah-wilayah yang rawan bencana,” kata Kepala BPBD NTT, Flori Mekeng, di Kupang, Jumat 21 Januari 2011.
Menurutnya, BPBD, akan menyusun peta resiko dan sejarah bencana dan ini sangat bermanfaatan untuk daerah dalam menyusun program pembangunan ataupun dalam mengambil kebijakan,. Jika ada daerah yang sering mengalami bencana longsor maka pemerintah dalam membangun perkantoran atau sarana lain harus perhatikan bestek atau mutu.
Berdasarkan data, kata dia, sejumlah daerah yang selalu mengalami bencana antara lain di Pulau Flores, Alor, Timor dan Sumba dengan memakan korban jiwa maupun materi. Karena itu, dengan adanya penyusunan resiko dan sejarah bencana maka dapat memberi kontribusi bagi daerah dalam mengambil kebijakan pembangunan pada daerah-daerah yang rawan.
Mekeng menambahkan, pihaknya juga membentuk tim reaksi cepat yang terdiri atas beberapa unsur dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, SAR, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, TNI/Polri.Mekeng mengatakan, pengurangan resiko bencana sangat tergantung dari peran, sikap, cara berpikir, perilaku, tindakan dan konstruksi pembangunan dari setiap elemen masyarakat.
"Jadi fokus kami tahun ini adalah membuat peta resiko bencana, di samping juga fokus pada penguatan lembaga, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan melibatkan peran masyarakat," katanya.
Mengenai laporan bencana dari daerah, Mekeng mengatakan, sejauh ini belum ada laporan bencana, tetapi BPBD NTT tetap membuka posko selama 1 x 24 jam, dengan harapan setiap daerah melaporkan apabila ada kejadian luar biasa.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya