berita2.com (Kupang): PT Sarana Agra Gemilang (SAG) yang telah dipercayakan untuk menjalin kerja sama operasional (KSO) dengan PT Semen Kupang, mengaku belum mampu mengoperasikan Pabrik Semen Kupang (PSK) itu sejak tahun 2010 lalu. Alasannya, masih banyak peralatan mesin pabrik semen itu yang belum beres sehingga membutuhkan waktu untuk dibenahi lagi.
"Selain peralatan mesin yang masih harus dibenahi lagi, juga manajemen ingin agar saat launching nanti, produksi harus terus-menerus berlangsung. Jadi kita berpikir untuk jangka panjang agar setelah launching, produksinya tetap kontinyu. Saat ini kami sedang mengurus ISO 9001:2008 dan sertifikasi standar nasional Indonesia (SNI)," jelas General Manager Operation PT SAG, Ronny Kristianto, ketika dihubungi di Kupang, Rabu 5 Januari 2011.
Saat ditanya, mengapa dirinya terus-menerus membuat janji launching produksi Semen Kupang melalui media massa sepanjang tahun 2010, Ronny enggan menjelaskannya, dan dengan secepatnya mengalihkan penjelasan tentang antisipasi polusi udara di seputar lokasi Pabrik Semen Kupang.
Menurut Ronny, manajemen PT SAG di tahun 2011 ini masih melakukan uji petik untuk mengantisipasi polusi udara sebelum beroperasi nanti. Karena berdasarkan informasi yang diterimanya dari masyarakat, beberapa waktu lalu ketika Pabrik Semen Kupang beroperasi selalu ada komplain dari warga sekitar terkait polusi udara akibat debu pabrik semen itu. Untuk itu, manajmen PT SAG saat ini berupaya agar polusi itu bisa ditekan seminimal mungkin.
"Kami sekarang sementara melakukan berbagai pembenahan, terutama antisipasi polusi udara yang berlebihan. Karena itu alat yang kita rancang saat ini harus bisa menekan polusi hingga nol persen, atau paling tidak minim dari yang pernah terjadi," kata Ronny.
Dia menjelaskan, untuk meminimalisir polusi udara akibat debu semen, maka kapasitas dari mesin yang berkaitan dengan pembuangan sisa produksi akan dinaikkan.
"Kapasitas mesin pembuangan yang masih 40 persen, kita naikkan hingga 100 persen, agar bisa menekan adanya polusi berlebihan. Dan dengan kapasitas yang tinggi itu bisa membuat polusi berkurang," katanya.
Dia menambahkan, debu yang keluar dari cerobong pembuangan adalah semen juga, sehingga harus diantisipasi agar semen itu tidak terbuang sia-sia. Jika sudah bisa diatasi, maka produksi semen juga akan maksimal.
“Untuk saat ini, kapasitas baru 40 persen, bahkan masih ada alat utama yang rusak sehingga kita bongkar untuk perbaiki lagi,”ujarnya .
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya